B+Konservasi Tanpa Negara di Pedalaman Indonesia

Konservasi berbasis adat terbukti mampu menjaga alam.

Perempuan Adat. (Foto: Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat)
Perempuan Adat. (Foto: Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat)
  • Konservasi adat terbukti nyata: 22 kampung di Papua, Papua Barat, dan Kalimantan Barat menjaga hutan, sungai, dan laut melalui adat, pantangan, serta aturan komunitas.
  • Kearifan lokal bisa bertahan dan beradaptasi, bahkan ketika kepercayaan lama berubah, selama institusi dan rasa tanggung jawab terhadap alam tetap hidup.
  • Pengakuan negara masih menjadi kunci: konservasi berbasis masyarakat berpotensi kuat, tetapi rentan ketika berhadapan dengan tekanan ekonomi dan hukum formal yang belum mengakui tata kelola adat.

Di kaki Tanah Tuweg, sebuah kawasan hutan di dataran tinggi Sinjang, Kalimantan Barat, warga kampung punya cerita yang mereka ulang-ulang setiap kali ada orang asing datang bertanya soal tanah itu. Pada 1994, seorang petani menanam dan memakan pare yang tumbuh di dekat area terlarang itu.

Sejak saat itu ia tak lagi bisa berjalan, dan kondisinya tak pernah membaik hingga ia meninggal sepuluh tahun kemudian, pada 2003. Cerita lain menyebut seorang pemburu yang menembak monyet hingga jatuh ke dalam Tanah Tuweg. Begitu ia menginjakkan kaki untuk mengambilnya, luka bernanah muncul di kakinya — luka yang terus kambuh dan tak pernah benar-benar sembuh.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Banjir di Tanah yang Berubah Wajah
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.