B+Patahan Purba dan Jejak Amblesnya Tanah Semarang

Semarang ambles bukan hanya karena air tanah, tetapi juga akibat patahan purba di bawah kota.

Pemandangan Kota Semarang dipotret dari ketinggian. Terdapat sesar aktif yang menuntut kewaspadaan. Foto: Wulan Yanuarwati/Mongabay Indonesia.
Pemandangan Kota Semarang dipotret dari ketinggian. Terdapat sesar aktif yang menuntut kewaspadaan. Foto: Wulan Yanuarwati/Mongabay Indonesia.
  • Penurunan tanah Semarang bukan semata akibat penyedotan air tanah, tetapi juga dipengaruhi struktur geologi berupa patahan purba di bawah kota.
  • Kawasan dengan kandungan lempung smektit dan struktur patahan tertentu lebih rentan ambles, dengan laju penurunan di sejumlah wilayah pesisir mencapai lebih dari 15 sentimeter per tahun.
  • Penanganan penurunan tanah perlu dilakukan secara lebih spesifik berdasarkan kondisi geologi tiap kawasan, tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan air tanah.

Selama lebih dari satu dekade, ceritanya selalu sama setiap kali orang membahas mengapa Semarang perlahan tenggelam: penduduknya terlalu banyak menyedot air tanah, bebannya terlalu berat karena pembangunan gedung dan infrastruktur yang terus bertambah, lalu tanah lempung di bawahnya yang lunak akhirnya mengempis seperti spons yang diperas.

Penjelasan itu tidak salah. Tapi menurut sekelompok peneliti dari Departemen Teknik Geologi Universitas Diponegoro bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), penjelasan itu tidak lengkap.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Banjir di Tanah yang Berubah Wajah
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.