B+Rumah Terapung Suku Bajo di Torosiaje

Rumah di atas laut Suku Bajo Torosiaje adalah bukti cerdasnya cara bertahan di tengah perubahan iklim.

Pemukiman Orang Bajo di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Pohuwato, Gorontalo. Foto: Tommy Pramono
Pemukiman Orang Bajo di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Pohuwato, Gorontalo. Foto: Tommy Pramono
  • Suku Bajo Torosiaje membangun permukiman di atas laut dengan tata ruang yang secara alami adaptif terhadap kondisi pesisir dan perubahan iklim.
  • Seluruh sistem hidup mereka—rumah, transportasi, dan ruang wilayah—dirancang berdasarkan pembacaan alam dan kearifan lokal, bukan teknologi modern.
  • Cara hidup Suku Bajo menunjukkan bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim bisa efektif melalui pengetahuan tradisional yang selaras dengan lingkungan.

Dari kejauhan, Torosiaje tampak seperti gugusan rumah panggung yang mengapung di tengah Teluk Tomini. Ratusan atap seng dan rumbia berjajar rapi mengikuti alur tanjung berbentuk huruf U, dihubungkan oleh jembatan kayu sepanjang hampir empat kilometer.

Tak ada satu pun rumah yang menyentuh daratan. Di bawahnya, air laut pasang surut setiap hari, dan di situlah generasi demi generasi Suku Bajo hidup, tidur, memasak, dan membesarkan anak-anak mereka.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Nikel Menggemukkan Negara, Tapi Daerah dapat Receh
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.