B+Asap Pabrik, Napas yang Terenggut

Regulasi emisi sudah ada, tapi di lapangan polusi industri masih merusak kesehatan warga sekitar.

Cerobong asap dari PLTU. Gambar oleh Kamil Szerlag dari Pixabay
Cerobong asap dari PLTU. Gambar oleh Kamil Szerlag dari Pixabay
  • Regulasi pengurangan emisi di Indonesia sudah ada dan cukup lengkap, tetapi implementasinya di sektor industri masih lemah sehingga target penurunan emisi belum tercapai secara nyata.
  • Emisi industri berdampak langsung pada kesehatan masyarakat sekitar, terutama peningkatan penyakit pernapasan, dan menciptakan ketimpangan karena warga rentan menanggung beban polusi paling besar.
  • Sistem pengawasan dan data emisi masih lemah dan tidak transparan, sehingga diperlukan pemantauan terpadu yang menghubungkan data emisi dan kesehatan serta kolaborasi lebih kuat antara pemerintah, industri, dan masyarakat.

Kurang dari tiga kilometer dari cerobong asap sebuah kawasan industri, anak-anak tumbuh dengan paru-paru yang lebih rentan. Data menunjukkan warga yang tinggal sedekat itu dengan pabrik dua kali lebih mungkin terkena infeksi saluran pernapasan akut dan asma dibanding mereka yang tinggal lebih jauh.

Bagi keluarga-keluarga ini, krisis iklim bukan wacana di ruang sidang internasional—ia hadir dalam bentuk batuk yang tak kunjung sembuh dan tagihan obat yang terus membengkak.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Hutan Bakau Banyuasin Lebih Mahal daripada Tambak
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.