B+Ketika Bumi Memanas, Jantung Ikut Terbakar

Di balik suhu tubuh yang tampak normal, panas ekstrem bisa diam-diam menghentikan jantung manusia.

ilustrasi jantung yang ikut terbakar akibat pemanasan global. (Sumber foto: ChatGPT)
ilustrasi jantung yang ikut terbakar akibat pemanasan global. (Sumber foto: ChatGPT)
  • Panas ekstrem dapat merusak jantung dan meningkatkan risiko kematian akibat gangguan kardiovaskular.
  • Suhu tubuh permukaan tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya, sehingga pengukuran suhu inti penting untuk diagnosis sengatan panas.
  • Pencegahan dan deteksi dini, terutama pada kelompok rentan, sangat penting untuk mengurangi dampak heat stroke.

Seorang pemuda berusia awal dua puluhan berolahraga di tengah cuaca 38 derajat Celsius. Tak lama kemudian ia ambruk. Jantungnya berhenti berdetak normal—fibrilasi ventrikel, kondisi kelistrikan jantung yang kacau dan mematikan.

Anehnya, ketika petugas medis mengukur suhu tubuhnya dari ketiak, angkanya normal: 36,6 derajat Celsius. Tak ada tanda demam tinggi yang biasa dikaitkan dengan sengatan panas atau heat stroke.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Perang Baru yang Tak Siap Dihadapi Dunia: Ketika Perubahan Iklim Jadi Pemantiknya
Staf Redaksi Benua Indonesia
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.