- Dari pesisir Gorontalo, kisah para mantan pemburu kepiting kenari memperlihatkan bagaimana kebutuhan hidup pernah menutup mata mereka terhadap dampak kerusakan alam.
- Namun seiring waktu, penurunan populasi dan kesadaran baru mengubah arah hidup mereka dari perburuan menuju pelestarian.
- Cerita ini menjadi pengingat bahwa alam yang rusak tak hanya meninggalkan penyesalan, tetapi juga peluang untuk berubah sebelum semuanya terlambat.
Di pesisir Gorontalo, angin laut berembus lembut membawa bau asin dan nostalgia. Ombak bergulung tenang, memecah di antara batu karang, mengulang lagu lama yang tak pernah benar-benar usai. Di balik deburannya, tersimpan kisah yang tak banyak orang tahu—kisah tentang perburuan, penyesalan, dan perjalanan menuju kesadaran.
Dulu, ketika malam turun dan lampu-lampu rumah mulai padam, ada sekelompok lelaki yang justru bersiap meninggalkan rumah. Senter digantung di kepala, karung bekas gula dipanggul di bahu. Mereka berjalan ke hutan-hutan pesisir, menyusuri akar pohon kelapa, memeriksa lubang-lubang batuan karang. Tujuannya satu: kepiting kenari (Birgus latro), makhluk malam yang sulit ditangkap, tetapi sangat berharga.
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran




















Leave a Reply
View Comments