Musu Bilale, menunjukkan salah satu tempat dulu biasa dia tangkap kepiting kenari. Foto: Sarjan Lahay
Musu Bilale, menunjukkan salah satu tempat dulu biasa dia tangkap kepiting kenari. Foto: Sarjan Lahay

B+Penyesalan Pemburu Kepiting Kenari

  • Dari pesisir Gorontalo, kisah para mantan pemburu kepiting kenari memperlihatkan bagaimana kebutuhan hidup pernah menutup mata mereka terhadap dampak kerusakan alam.
  • Namun seiring waktu, penurunan populasi dan kesadaran baru mengubah arah hidup mereka dari perburuan menuju pelestarian.
  • Cerita ini menjadi pengingat bahwa alam yang rusak tak hanya meninggalkan penyesalan, tetapi juga peluang untuk berubah sebelum semuanya terlambat.

Di pesisir Gorontalo, angin laut berembus lembut membawa bau asin dan nostalgia. Ombak bergulung tenang, memecah di antara batu karang, mengulang lagu lama yang tak pernah benar-benar usai. Di balik deburannya, tersimpan kisah yang tak banyak orang tahu—kisah tentang perburuan, penyesalan, dan perjalanan menuju kesadaran.

Dulu, ketika malam turun dan lampu-lampu rumah mulai padam, ada sekelompok lelaki yang justru bersiap meninggalkan rumah. Senter digantung di kepala, karung bekas gula dipanggul di bahu. Mereka berjalan ke hutan-hutan pesisir, menyusuri akar pohon kelapa, memeriksa lubang-lubang batuan karang. Tujuannya satu: kepiting kenari (Birgus latro), makhluk malam yang sulit ditangkap, tetapi sangat berharga.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.