B+Trotoar yang Tak Ramah

Trotoar Jakarta belum inklusif bagi penyandang disabilitas.

ilustrasi seorang penyandang disabilitas sedang berjalan di trotoar. (Foto: Gemini)
ilustrasi seorang penyandang disabilitas sedang berjalan di trotoar. (Foto: Gemini)
  • Aksesibilitas trotoar di Jakarta masih belum inklusif bagi penyandang disabilitas, karena banyak fasilitas seperti ramp, jalur pemandu, dan ruang jalan yang tidak sesuai kebutuhan pengguna kursi roda.
  • Keterbatasan akses ruang publik mengurangi kemandirian dan partisipasi sosial penyandang disabilitas, karena mereka sering harus bergantung pada bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Perbaikan trotoar membutuhkan kebijakan yang lebih partisipatif dan berperspektif gender, dengan melibatkan komunitas difabel agar pembangunan kota benar-benar memenuhi hak semua warga.

Untuk pergi ke halte bus terdekat, seorang penyandang disabilitas di Jakarta butuh bantuan dua sampai tiga orang. Bukan karena jaraknya jauh, melainkan karena satu-satunya akses turun yang tersedia berupa tangga—jalur yang mustahil dilalui sendirian oleh pengguna kursi roda.

Begitu cerita seorang orang tua penyandang disabilitas kepada tim peneliti dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta, dalam sebuah wawancara yang menjadi bagian dari studi mereka tentang aksesibilitas trotoar ibu kota.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Panas Lembap Bisa Mematikan akibat Perubahan Iklim
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.