Aktivitas transhipment BJA. (Foto: FWI)
Aktivitas transhipment BJA. (Foto: FWI)

B+Ekspor Wood Pellet di Gorontalo Diduga Ilegal

  • Pelet kayu, sebagai bahan baku pembangkit biomassa maupun PLTU co-fring. Permintaan pasar ekspor lumayan, antara lain ke Korea Selatan dan Jepang. Di Indonesia, Gorontalo, salah satu produsen pelet kayu. Koalisi masyarakat  sipil menilai,  pelet kayu untuk biomassa malah membabat hutan alam. Bahkan, ada dugaan pelet-pelet kayu ke Jepang dan Korel  ekspor lewat cara-cara melanggar.
  • Pemanfaatan biomassa pelet kayu sebagai sumber energi hanya menghasilkan utang emisi karena dari kerusakan hutan alam. Hutan alam, ekosistem paling banyak menyimpan karbon dibanding hutan tanaman.
  • PT Biomasa Jaya Abadi (BJA) merupakan perusahaan pengolahan pelet kayu berdiri pada 2020. Perusahaan ini mendapatkan bahan baku dari PT Banyan Tumbuh Lestari (BTL) dan PT Inti Global Laksana (IGL), merupakan perusahaan perkebunan sawit yang bertransformasi menjadi HTE.
  • Bentang Alam Popayato-Paguat, kata Terry, menjadi daerah tangkapan air, habitat satwa, menjadi koridor penting biodiversitas dan berbagai spesies kunci. Ia juga menghubungkan wilayah timur dan barat Sulawesi.

Di sebuah pelabuhan, sejumlah Dump Truk terlihat laulalang. Ada yang sedang membongkar muatannya, ada pula yang sedang yang berjejer rapi di tepi jalan. Di ujung pelabuhan, tiga orang tenaga kerja bongkar muat (TKBM) tengah sibuk mengikat sebuah barang diatas mobil yang berkapasitas 30 ton itu. Barang-barang itu rupanya akan dipindahkan ke salah satu kapal tongkang yang sudah siap berlabuh.

“Ini pelabuhan PT. Biomasa Jaya Abadi (BJA). Barang-barang yang dimuat ke kapal tongkang itu adalah wood pellet yang akan dikirimkan ke luar negeri,” kata seorang nelayan kepada Mongabay saat mengunjungi lokasi itu pada akhir Juli lalu.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.