B+Dari Indonesia hingga Kongo, Gambut Terus Terbakar

Kerusakan gambut akibat pertanian dan kebakaran di tiga benua memicu emisi besar yang dampaknya dapat terus berlangsung selama puluhan tahun.

Greenpeace membentangkan banner di lahan gambut bekas terbakar. Foto: Stefanus Taman - Greenpeace
Greenpeace membentangkan banner di lahan gambut bekas terbakar. Foto: Stefanus Taman - Greenpeace
  • Pertanian menjadi penyebab utama kerusakan gambut di Indonesia, Peru, dan Kongo, dengan pola pelaku yang berbeda di tiap wilayah.
  • Kebakaran menyumbang sekitar separuh emisi gas rumah kaca dari kerusakan gambut, sehingga pencegahan pembakaran menjadi langkah penting.
  • Dampak kerusakan gambut berlangsung jangka panjang, karena emisi tetap dilepaskan melalui proses dekomposisi selama bertahun-tahun setelah lahan dibuka.

Dari langit, satelit tidak peduli bahasa apa yang dipakai penduduk di bawahnya. Ia hanya merekam: hari ini hijau, besok cokelat gundul, lusa ada asap. Dengan cara merekam yang sama persis, sekelompok peneliti dari Universitas Wageningen, Belanda, bersama rekan-rekan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), menjalankan eksperimen yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Mereka membandingkan apa yang sesungguhnya merusak hutan gambut di tiga benua sekaligus—Indonesia, Peru, dan Republik Demokratik Kongo—menggunakan kacamata yang sama persis, dan mengukur berapa ton gas rumah kaca yang dilepaskan setiap kali gambut itu diganggu.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Krisis Iklim yang Menggerus Desa
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.