B+Sampah yang Menyeberang Batas Kota

Sampah seperti halnya banyak persoalan lain di wilayah pinggiran kota, tidak pernah benar-benar mengenal batas peta administrasi.

Tumpukan sampah termasuk sampah medis di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Regional Gorontalo. (Foto: Sarjan Lahay/ Mongabay Indonesia)
Tumpukan sampah termasuk sampah medis di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Regional Gorontalo. (Foto: Sarjan Lahay/ Mongabay Indonesia)
  • Pengelolaan sampah di Desa Sooko melampaui batas administratif, dengan 40,36% sampah rumah tangga justru mengalir ke fasilitas Kota Mojokerto.
  • Cakupan layanan sampah masih sangat tidak merata, karena 46,93% timbulan sampah berada di luar layanan pengumpulan resmi.
  • Diperlukan koordinasi lintas wilayah yang lebih kuat, terutama untuk memperjelas tanggung jawab, pembiayaan, dan perluasan layanan.

Bayangkan dua pemerintah daerah yang bertetangga—satu kabupaten, satu kota—dengan garis batas administratif yang di atas kertas terlihat jelas dan tegas. Tapi di lapangan, di Desa Sooko yang berada persis di titik temu Kabupaten Mojokerto dan Kota Mojokerto, Jawa Timur, garis itu nyaris tak berarti apa-apa bagi truk-truk pengangkut sampah yang melintas setiap hari.

Sampah rumah tangga yang dihasilkan warga di wilayah Kabupaten Mojokerto justru lebih banyak diangkut ke fasilitas pengelolaan sampah milik Kota Mojokerto, ketimbang ke fasilitas milik kabupaten mereka sendiri.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Presiden Prabowo Menyiapkan Bencana Bagi Papua
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.