B+Mengapa Tak Ada Provinsi Pesisir Indonesia yang Mencapai Keselarasan Ekonomi Laut?

Dari 20 provinsi pesisir Indonesia, tidak satu pun berhasil mencapai kategori "keselarasan berkualitas tinggi" antara kinerja ekonomi laut dan pembangunan daerah secara menyeluruh.

Kapal Nelayan di Pesisir Bali Utara. Adipatra Kenaro
Kapal Nelayan di Pesisir Bali Utara. Adipatra Kenaro
  • Tak satu pun dari 20 provinsi pesisir mencapai keselarasan berkualitas tinggi antara ekonomi laut dan pembangunan daerah pada 2019–2023.
  • Produktivitas budi daya perikanan dan kontribusi transportasi laut menjadi dua hambatan utama, yang bersama-sama menyumbang hampir separuh hambatan koordinasi pada 2023.
  • Kebijakan perlu disesuaikan dengan kondisi tiap provinsi, terutama melalui peningkatan produktivitas budi daya, konektivitas maritim, serta ketahanan terhadap risiko bencana.

Indonesia menyandang gelar sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan sumber daya laut yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau—mulai dari perikanan tangkap, budi daya, wisata bahari, transportasi maritim, hingga ekosistem terumbu karang, mangrove, dan padang lamun. Tapi memiliki potensi laut yang besar tidak otomatis berarti potensi itu berhasil diterjemahkan menjadi kesejahteraan nyata bagi daerah pesisir yang menaunginya.

Pertanyaan tentang apakah ekonomi laut benar-benar selaras dengan pembangunan daerah secara lebih luas—bukan sekadar tumbuh sendiri di sektor kelautan—inilah yang menjadi fokus studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Environmental and Sustainability Indicators.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Kakap Merah di Ambang Krisis
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.