B+Laut Indonesia jadi Jalur Maut Hiu Paus

Perairan Indonesia menjadi salah satu tujuan migrasi paling penting bagi spesies-spesies yang justru paling sedikit datanya di seluruh kawasan.

Hiu Paus. Gambar oleh Domingo Trejo dari Pixabay
Hiu Paus. Gambar oleh Domingo Trejo dari Pixabay
  • Perairan Indonesia merupakan jalur penting migrasi hiu dari Australia, termasuk hiu paus, hiu putih besar, dan hiu harimau.
  • Data migrasi hiu masih sangat terbatas, terutama untuk spesies yang terancam punah, sehingga banyak jalur pergerakan belum sepenuhnya diketahui.
  • Kerja sama Indonesia–Australia dan negara kawasan sangat diperlukan untuk penelitian, pemantauan, dan perlindungan hiu yang bermigrasi melintasi batas negara.

Berapa banyak hiu paus yang setiap tahun meninggalkan perairan Australia dan berenang jauh ke utara, melintasi Laut Timor, hingga masuk ke wilayah laut Indonesia? Pertanyaan sesederhana itu, ternyata, selama puluhan tahun tidak punya jawaban yang jelas—bukan karena pergerakannya tidak pernah terjadi, melainkan karena tidak ada satu pun kajian yang pernah mengumpulkan seluruh bukti ilmiah yang tersebar itu menjadi satu gambaran utuh.

Kekosongan itulah yang coba diisi oleh tim peneliti dari University of Queensland, University of the Sunshine Coast, CSIRO, University of Tasmania, dan Marine Megafauna Foundation, dipimpin Diego F. Bezerra, dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Conservation Biology.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Pajak Karbon Eropa dan Dilema Industri Indonesia
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.