B+Yang Tersembunyi di Balik Hutan Reklamasi Bauksit Kalimantan Barat

Reklamasi tambang tidak cukup hanya membuat lahan kembali hijau, tetapi harus memulihkan tanah dan keanekaragaman hayatinya.

Pertambangan bauksit yang menyisakan limbah bekas galian dan pecemaran udara tanpa ada upaya mereklamasi bekas tambangnya. Foto: Andi Fachrizal
Pertambangan bauksit yang menyisakan limbah bekas galian dan pecemaran udara tanpa ada upaya mereklamasi bekas tambangnya. Foto: Andi Fachrizal
  • Lahan bekas tambang terlihat hijau, tetapi ekosistemnya belum sepenuhnya pulih.
  • Tanah kembali mengasam dan keanekaragaman hayati masih jauh di bawah hutan alami.
  • Reklamasi perlu menilai kesehatan tanah dan keanekaragaman hayati, bukan hanya jumlah pohon dan tutupan hijau.

Dari kejauhan, blok-blok bekas tambang bauksit milik PT Aneka Tambang (Antam) di Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, tampak seperti hutan biasa. Ada papan informasi kecil di setiap petak yang mencatat tahun tanam, jumlah pohon, dan jenis yang ditanam—jejak administratif dari sebuah program reklamasi yang telah berjalan sejak 2015.

Semakin tua sebuah blok, semakin tinggi dan rapat pepohonannya. Di blok tertua, yang sudah berumur satu dekade, kanopi sudah menutup dan understory dipenuhi tumbuhan paku yang lebat.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Mengapa Restorasi Gambut Indonesia Masih Tertatih-tatih?
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.