- Perhutanan sosial membuka peluang mengubah hutan pinus monokultur menjadi lanskap yang lebih beragam dan produktif.
- Petani Maros tidak hanya bergantung pada getah pinus, tetapi juga memanfaatkan hutan untuk pangan, pendapatan, dan jasa lingkungan.
- Transformasi menuju hutan multifungsi masih bertahap, sehingga membutuhkan dukungan dan pengelolaan jangka panjang.
Di kaki perbukitan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ada sebidang hutan seluas hampir 237 hektare yang menyimpan sejarah panjang tentang bagaimana negara dan warga saling berebut—dan akhirnya berbagi—kendali atas sepetak tanah.
Hutan ini dikelola oleh Kelompok Tani Abulo Sibatang, dan kisahnya menjadi bahan sebuah studi baru yang terbit di jurnal Trees, Forests and People, ditulis oleh Supratman dan timnya dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin bersama peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran
DANA
gopay
OVO
ShopeePay
QRIS
Dan lainnya













Leave a Reply
View Comments