B+Potret Kesehatan Mental Warga Pesisir Indonesia

Hampir 650 ribu orang di kawasan pesisir Indonesia punya risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental.

Perempuan Bajo di Desa Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Pohuwato, Gorontalo.. Foto: Sarjan Lahay/ Mongabay Indonesia
Perempuan Bajo di Desa Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Pohuwato, Gorontalo.. Foto: Sarjan Lahay/ Mongabay Indonesia
  • Bencana pesisir bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga meningkatkan tekanan mental warga.
  • Perempuan dan kelompok dengan akses layanan kesehatan terbatas menjadi lebih rentan mengalami tekanan mental.
  • Adaptasi perubahan iklim perlu memasukkan kesehatan mental sebagai bagian penting dari penanggulangan bencana.

Selama ini, ketika orang membicarakan dampak perubahan iklim di wilayah pesisir, yang paling sering muncul di kepala adalah gambaran fisik: rumah yang tergenang air pasang, garis pantai yang terus mundur dimakan abrasi, atau badai yang meluluhlantakkan perahu nelayan. Yang jarang dibicarakan adalah apa yang terjadi di kepala orang-orang yang tinggal di sana — kecemasan yang menumpuk, tidur yang terganggu, dan rasa lelah yang tak kunjung hilang meski bencana besar belum tentu datang hari itu.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal The Journal of Climate Change and Health pertengahan 2026 mencoba mengisi kekosongan itu. Tim peneliti dari Universitas Indonesia, Universitas Ciputra Surabaya, Universitas Brawijaya, dan University of Manchester, yang dipimpin Mashita Fajri dan Asri Maharani, menelusuri data dari 642.419 orang dewasa Indonesia yang menjadi responden Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 — survei kesehatan nasional terbesar yang mencakup seluruh 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota di Indonesia.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Rahasia yang Tersembunyi dalam Darah Penyu
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.