B+Di Balik Kuasa Negara atas Hutan Adat Mamasa

Hak adat Mamasa perlahan bergeser menjadi sekadar izin akses.

Papan peringatan TNGD berdiri di batas kawasan, sekitar areal pertanian Warga Taupe. Foto: Agus Mawan W/Mongabay Indonesia.
Papan peringatan TNGD berdiri di batas kawasan, sekitar areal pertanian Warga Taupe. Foto: Agus Mawan W/Mongabay Indonesia.
  • Penetapan taman nasional menggeser hak masyarakat adat Mamasa dari kepemilikan menjadi akses yang harus mendapat izin.
  • Program konservasi dan insentif negara secara perlahan memperkuat kontrol pemerintah atas hutan adat.
  • Konflik tenurial belum selesai karena pengakuan hak adat masih kalah kuat dibandingkan kewenangan negara.

Di pegunungan Quarles, di jantung Sulawesi Barat, ada sebuah gunung yang oleh masyarakat Mamasa dipercaya bisa “berbicara”. Ketika suara tertentu terdengar dari puncaknya, warga meyakini itu pertanda duka—mungkin kematian—dan seluruh aktivitas di hutan harus dihentikan seketika.

Orang-orang pulang ke kampung, memastikan kabar itu, lalu menjalani ritual berkabung. Gunung itu bernama Gandang Dewata, dan nama itu sendiri adalah jejak dari hubungan spiritual yang telah berlangsung jauh lebih lama dari negara Indonesia berdiri.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Rahasia Pertanian Berkelanjutan yang Mengubah Nasib Petani
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.