B+Panas Lembap Bisa Mematikan akibat Perubahan Iklim

Perubahan iklim memperparah panas lembap ekstrem yang semakin mengancam kehidupan manusia.

Ilustrasi Panas Lembab. Gambar oleh tvbayernlive dari Pixabay
Ilustrasi Panas Lembab. Gambar oleh tvbayernlive dari Pixabay
  • Perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah melipatgandakan jumlah hari panas lembap berbahaya di dunia dalam lima dekade terakhir.
  • Kombinasi suhu tinggi dan kelembapan membuat tubuh sulit mendinginkan diri, sehingga meningkatkan risiko penyakit akibat panas hingga kematian.
  • Tanpa upaya mitigasi dan adaptasi, hari-hari panas lembap ekstrem diperkirakan akan semakin sering terjadi dan mengancam lebih banyak wilayah serta penduduk dunia.

Bayangkan tubuh Anda sebagai sebuah mesin pendingin alami. Ketika suhu meningkat, tubuh mulai berkeringat. Keringat kemudian menguap dan membawa panas keluar, membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil. Sistem ini bekerja efektif selama udara di sekitar masih mampu menyerap uap air.

Namun, ketika udara sudah terlalu lembap dan mencapai titik jenuh, mekanisme pendinginan ini mulai gagal. Keringat tidak lagi dapat menguap dengan baik, sehingga panas terperangkap di dalam tubuh. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras untuk mengatur suhu, risiko dehidrasi meningkat, dan dalam kondisi ekstrem, tubuh dapat mengalami heat stroke—keadaan darurat medis yang berpotensi menyebabkan kerusakan organ hingga kematian.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Ketika Bumi Memanas, Jantung Ikut Terbakar
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.