- Perlindungan hutan dapat menekan biaya menuju net zero, karena penyerapan karbon dari lahan mengurangi tekanan dekarbonisasi pada sektor energi.
- Tanpa kebijakan karbon lahan yang kuat, biaya transisi bisa membengkak, sementara ekspansi bioenergi juga berisiko meningkatkan tekanan terhadap hutan dan lahan.
- Indonesia perlu menyelaraskan kebijakan energi dan lahan, dengan harga karbon yang kredibel serta perlindungan hutan yang kuat agar target net zero tercapai dengan biaya lebih rendah.
Bayangkan dua kementerian sedang menyusun peta jalan menuju net zero. Yang satu sibuk menghitung berapa banyak pembangkit listrik tenaga uap batu bara yang harus dipensiunkan lebih awal, dan berapa gigawatt panel surya serta turbin angin yang harus dibangun untuk menggantikannya. Yang satu lagi bergelut dengan angka deforestasi, luas lahan sawit, dan target FOLU Net Sink 2030—rencana ambisius yang ingin mengubah sektor kehutanan dan tata guna lahan dari penyumbang emisi menjadi penyerap karbon.
Masalahnya, kedua peta jalan itu jarang benar-benar bertemu di atas meja yang sama. Padahal, seperti dicatat Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dalam laporan khusus 2018 tentang pemanasan global 1,5 derajat Celsius, keputusan di sektor energi dan keputusan di sektor lahan saling mengait erat—dan sering kali saling menggerus.
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran












Leave a Reply
View Comments