B+Mengenal Laba-laba Hantu dari Rumpun Bambu

Rumpun bambu di Jawa menyimpan spesies laba-laba baru yang memperkaya pengetahuan biodiversitas Asia Tenggara.

Rathalos inagami, laba-laba Anyphaenidae, yang beranggotakan 654 spesies valid di seluruh dunia.  (Foto: dari Jurnal Penelitian)
Rathalos inagami, laba-laba Anyphaenidae, yang beranggotakan 654 spesies valid di seluruh dunia.  (Foto: dari Jurnal Penelitian)
  • Laba-laba baru Rathalos inagami menjadi catatan pertama keluarga Anyphaenidae di Asia Tenggara.
  • Temuan ini menunjukkan bahwa rumpun bambu masih menyimpan keanekaragaman hayati yang belum banyak terungkap.
  • Penemuan di sekitar kampus membuktikan bahwa eksplorasi sederhana dapat membuka pengetahuan baru tentang biodiversitas Indonesia.

Agustus 2024, di tepi Sungai Ciapus yang membelah kampus Institut Pertanian Bogor, Naufal Urfi Dhiya’ulhaq dan Ahmad Restu Dwikelana sedang melakukan sesuatu yang bagi kebanyakan orang mungkin terdengar remeh: mengetuk-ngetuk rumpun bambu, berharap ada laba-laba yang jatuh ke jaring penangkap mereka. Yang mereka temukan hari itu, tanpa mereka sadari sepenuhnya saat itu, ternyata adalah sesuatu yang belum pernah tercatat oleh ilmu pengetahuan di seluruh Asia Tenggara.

Temuan itu baru resmi diumumkan awal 2026 dalam jurnal Journal of Asia-Pacific Biodiversity, ditulis bersama Purnama Hidayat dari Departemen Proteksi Tanaman IPB. Judulnya sendiri sudah menyiratkan sedikit humor ilmiah: “Penampakan hantu” — merujuk pada nama umum keluarga laba-laba yang mereka temukan, Anyphaenidae, yang di kalangan penggemar arakhnida dikenal sebagai ghost spider atau laba-laba hantu.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Padi Lokal Hilang, Ritual Punah
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.