- Mangrove Banyuasin bernilai ekonomi tinggi, sekitar US$14.704 per hektare per tahun atau lebih dari Rp230 juta, terutama dari hasil perikanan dan perlindungan pantai.
- Kerusakan mangrove berarti kehilangan sumber penghidupan dan perlindungan pesisir, sementara nilai karbon, biodiversitas, dan jasa ekosistem lainnya belum sepenuhnya masuk dalam perhitungan ekonomi daerah.
- Konservasi perlu menjadi bagian dari kebijakan pembangunan, dengan perlindungan kawasan bernilai tinggi, rehabilitasi mangrove, serta pemanfaatan ekowisata dan karbon biru secara berkelanjutan.
Setiap subuh, ratusan perahu kecil meninggalkan dermaga-dermaga di Sungsang, Banyuasin, menyusuri kanal-kanal berair keruh yang diapit rimbunan bakau. Nelayan di sana tahu betul, hasil tangkapan kepiting bakau, udang, dan ikan yang mereka bawa pulang setiap sore bukan datang dari laut lepas semata, melainkan dari akar-akar mangrove yang menjadi tempat ikan bertelur dan anakan udang bersembunyi dari pemangsa.
Namun berapa sebenarnya nilai ekonomi dari hutan yang selama ini dianggap “gratis” itu, jarang ada yang tahu pasti.
Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran
DANA
gopay
OVO
ShopeePay
QRIS
Dan lainnya












Leave a Reply
View Comments