B+Hutan Bakau Banyuasin Lebih Mahal daripada Tambak

Mangrove Banyuasin merupakan aset ekonomi bernilai tinggi yang lebih menguntungkan jika dijaga daripada ditebang.

Hutan Mangrove di Semenanjung Banyuasin yang terjaga baik. Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia
Hutan Mangrove di Semenanjung Banyuasin yang terjaga baik. Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia
  • Mangrove Banyuasin bernilai ekonomi tinggi, sekitar US$14.704 per hektare per tahun atau lebih dari Rp230 juta, terutama dari hasil perikanan dan perlindungan pantai.
  • Kerusakan mangrove berarti kehilangan sumber penghidupan dan perlindungan pesisir, sementara nilai karbon, biodiversitas, dan jasa ekosistem lainnya belum sepenuhnya masuk dalam perhitungan ekonomi daerah.
  • Konservasi perlu menjadi bagian dari kebijakan pembangunan, dengan perlindungan kawasan bernilai tinggi, rehabilitasi mangrove, serta pemanfaatan ekowisata dan karbon biru secara berkelanjutan.

Setiap subuh, ratusan perahu kecil meninggalkan dermaga-dermaga di Sungsang, Banyuasin, menyusuri kanal-kanal berair keruh yang diapit rimbunan bakau. Nelayan di sana tahu betul, hasil tangkapan kepiting bakau, udang, dan ikan yang mereka bawa pulang setiap sore bukan datang dari laut lepas semata, melainkan dari akar-akar mangrove yang menjadi tempat ikan bertelur dan anakan udang bersembunyi dari pemangsa.

Namun berapa sebenarnya nilai ekonomi dari hutan yang selama ini dianggap “gratis” itu, jarang ada yang tahu pasti.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Panas Lembap Bisa Mematikan akibat Perubahan Iklim
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.