B+Mengurai Misteri di Balik Banjir Lahar Dingin Marapi

Banjir lahar Marapi terjadi akibat hujan ekstrem yang diperkuat oleh kondisi atmosfer dan topografi, sehingga diperlukan sistem peringatan dini yang lebih akurat.

Lokasi terdampak banjir lahar dingin dan longsor di Lubuk Mata Kucing, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Foto: BNPB
Lokasi terdampak banjir lahar dingin dan longsor di Lubuk Mata Kucing, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Foto: BNPB
  • Banjir lahar Marapi dipicu oleh hujan ekstrem yang berlangsung lama akibat rangkaian badai konvektif.
  • Topografi dan kondisi atmosfer turut memperkuat serta mempertahankan hujan deras di sekitar Gunung Marapi.
  • Sistem peringatan dini perlu ditingkatkan dengan memantau perkembangan awan, hujan, dan kondisi gunung secara bersamaan.

Pukul 22.30 waktu setempat, pada 11 Mei 2024, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sesuatu yang mengubah malam itu menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terburuk yang pernah menimpa Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir. Banjir lahar dingin—aliran deras berisi campuran air dan material vulkanik lepas dari lereng Gunung Marapi—menerjang permukiman di Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Kota Padang Panjang.

Ketika debu mereda, angka yang tersisa sungguh menyedihkan: 67 orang meninggal dunia, sekitar 20 orang masih dilaporkan hilang, hampir 4.000 warga mengungsi, 521 rumah rusak, 31.985 hektare lahan pertanian terdampak, dan 19 jembatan hancur, memutus konektivitas antarwilayah.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Antisipasi dan Atasi Polusi dengan Penerapan BBM Standar Euro IV
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.