B+Menyusuri Merkuri dari Gunung Tulabolo sampai ke Piring Makan Warga Gorontalo

Jejak merkuri mengalir dari sungai bekas tambang, air minum isi ulang, beras, dan ikan teri yang dijual di pasar tradisional Gorontalo

Logam berat atau merkuri yang digunakan untuk menangkap emas. (Foto: Sarjan Lahay)
Logam berat atau merkuri yang digunakan untuk menangkap emas. (Foto: Sarjan Lahay)
  • Pencemaran logam berat ditemukan dengan pola yang berbeda-beda, terutama arsenik dan timbal pada sedimen sungai serta merkuri dan kadmium pada beberapa titik Danau Limboto.
  • Kadmium menjadi perhatian pada bahan pangan, karena ditemukan melebihi nilai acuan pada sebagian sampel beras dan ikan teri, meskipun beberapa perbandingan masih memiliki keterbatasan metodologis.
  • Hasil penelitian belum cukup untuk menyimpulkan risiko kesehatan secara pasti, sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan metode yang lebih ketat, pemantauan musiman, serta analisis spesiasi dan sumber logam berat.

Di pedalaman Gorontalo, koridor Tulabolo-Motomboto menyimpan sesuatu yang menarik perhatian dua kelompok yang sangat berbeda kepentingannya: ahli geologi dan penambang emas rakyat. Kawasan ini adalah bagian dari distrik mineral Tombulilato, tempat batuan mengandung emas dan tembaga terbentuk lewat proses hidrotermal purba.

Tempta juga sekaligus menjadi lokasi aktivitas Artisanal and Small-Scale Gold Mining (ASGM), atau yang lebih dikenal sebagai tambang emas rakyat, yang telah berlangsung puluhan tahun dan masih mengandalkan merkuri untuk mengikat butiran emas dari bijihnya.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Ketika Tanah Adat Ditentukan oleh Koneksi Kekuasaan
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.