- CCS di PLTU Suralaya mampu mengurangi emisi secara signifikan, tetapi biaya investasinya masih sangat tinggi.
- Harga karbon Indonesia saat ini belum cukup untuk membuat teknologi CCS layak secara ekonomi.
- Indonesia perlu menimbang CCS dan energi terbarukan secara cermat sebagai strategi menuju net zero emission 2060.
Di pesisir Cilegon, Banten, berdiri kompleks pembangkit listrik tenaga uap Suralaya—raksasa energi dengan kapasitas 4.025 megawatt yang menjadikannya PLTU terbesar kedua di Indonesia setelah Paiton. Dari cerobongnya, setiap tahun mengepul lebih dari 20 juta ton karbon dioksida ke atmosfer—setara emisi dari jutaan kendaraan bermotor yang berjalan sepanjang tahun.
Suralaya bukan sekadar satu pembangkit di antara ratusan lainnya; ia adalah simbol dari dilema besar yang dihadapi Indonesia dalam mengejar target nol emisi bersih pada 2060: bagaimana caranya mengurangi emisi raksasa dari batu bara, tanpa harus menutup pembangkit yang justru menjadi tulang punggung pasokan listrik nasional?
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran













Leave a Reply
View Comments