B+Petani dan Pejabat Berbeda Prioritas Menghadapi Kemarau di Sumbawa

Adaptasi iklim akan efektif jika kebijakan pemerintah sesuai dengan kebutuhan dan realitas petani.

Ilustrasi. Gambar oleh Aamir Mohd Khan dari Pixabay
Ilustrasi. Gambar oleh Aamir Mohd Khan dari Pixabay
  • Adaptasi iklim sering gagal bukan karena teknologinya, tetapi karena pemerintah dan petani berbeda dalam menentukan prioritas.
  • Strategi adaptasi harus disesuaikan dengan kondisi lokal, karena kebutuhan petani Batudulang berbeda dengan petani di Pelat.
  • Petani perlu dilibatkan sejak awal agar kebijakan adaptasi benar-benar sesuai dengan risiko, kemampuan, dan kebutuhan mereka.

Di ladang-ladang berbukit Desa Batudulang, Kabupaten Sumbawa, petani sudah lama punya jurus sendiri menghadapi musim kering yang datang tak menentu: menanam beragam tanaman sekaligus di satu petak lahan. Kemiri berdampingan dengan kopi, alpukat bertetangga dengan durian dan jahe.

Jika satu tanaman gagal panen, yang lain masih bisa diharapkan. “Kami biasanya menanam beberapa jenis tanaman bersamaan, karena kalau satu gagal, yang lain masih bisa bertahan,” kata seorang petani kepada tim peneliti.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Agenda Kebijakan Adaptasi Iklim
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.