- Kearifan lokal masyarakat Lereng Merapi membentuk hubungan harmonis antara manusia dan alam melalui tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
- Tradisi budaya seperti Sedekah Gunung dan Labuhan Merapi menjadi wujud syukur sekaligus upaya menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana.
- Di tengah arus globalisasi, pelestarian kearifan lokal penting dilakukan agar nilai-nilai budaya dan kepedulian terhadap alam tetap diwariskan kepada generasi mendatang.
Indonesia memiliki banyak tradisi unik dari Sabang sampai Merauke. Data dari Kementerian Kebudayaan menunjukkan bahwa budaya di Indonesia mencakup 1.941 karya budaya. Dari ribuan karya budaya tersebut, ada beberapa budaya yang terkait dengan alam dan semesta serta melahirkan kearifan lokal (local wisdom). Kearifan lokal yang ada mencerminkan hubungan yang sangat erat antara manusia dan alam.
Kearifan lokal ini telah ada sejak turun-temurun dan memiliki peran penting di era globalisasi serta perubahan gaya hidup saat ini. Penetrasi pengaruh dari luar akan mengakibatkan kearifan lokal terancam. Namun, di lereng Merapi budaya lokal dan alam mempunyai ikatan yang sangat harmonis.
Budaya dan alam yang saling terkait dan saling memengaruhi memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia. Kearifan lokal yang timbul menjadikan manusia selalu bijaksana terhadap alam dan menjaga keseimbangan ekosistem. Hal ini terlihat pada peringatan malam 1 Suro yang dianggap sebagai malam sakral bagi masyarakat lokal Jawa, terutama masyarakat di lereng Gunung Merapi.
Pada malam 1 Suro tersebut, masyarakat lokal menggunakan sumber mata air untuk melakukan pembersihan diri dari energi negatif atau memberikan seserahan kepada mata air. Beberapa tradisi budaya yang ada di lereng Gunung Merapi, seperti Upacara Labuhan Merapi dan Upacara Sedekah Gunung. Merti Umbul Bebeng, dan Saparan. Berbagai bentuk perilaku masyarakat yang menunjukkan kesadaran terhadap pelestarian alam tercermin dari beberapa tradisi adat yang bertujuan untuk melestarikannya.
Berakar pada semboyan “Memayu Hayuning Bawana”, yakni menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta. Kegiatan memberikan seserahan kepada alam merupakan bentuk Syukur yang diberikan. Hal ini sangat menarik karena telah dilakukan sejak zaman dahulu, dan masyarakat Lereng Merapi percaya bahwa seserahan kepada alam akan memberikan keberkahan bagi mereka.
Hubungan atau interaksi yang terjaga dengan baik antara manusia dan alam semesta saling memengaruhi. Interaksi antara manusia dan alam akan menimbulkan nilai dan norma. Nilai-nilai yang ada akan membentuk cara manusia memperlakukan alam. Pola-pola ini akan membentuk perilaku yang berkelanjutan dan menjadi tradisi, sehingga menjadi budaya lokal masyarakat.
Pandangan masyarakat Lereng Merapi mengenai alam, khususnya Gunung Merapi, menjadikan alam dan sekitarnya diperlakukan dengan sangat baik. Masyarakat Lereng Merapi sangat memahami bahwa Gunung Merapi menyediakan sumber daya alam yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Gunung Merapi merupakan gunung yang berbeda dari gunung-gunung lainnya di Indonesia.
Berdasarkan (Diaz,2025) Gunung Merapi merupakan gunung yang sangat aktif di dunia. Namun, masyarakat Lereng Merapi memiliki cara beradaptasi dengan kearifan lokal yang mereka miliki, seperti pengetahuan, budaya, dan keterampilan lokal. Hal ini karena kebiasaan yang telah turun-temurun sejak zaman nenek moyang dan leluhur.
Masyarakat mempercayai bahwa memberikan seserahan/sedekah di Gunung Merapi, selain sebagai bentuk syukur, juga merupakan sarana untuk menolak bala dan memperoleh perlindungan dari bahaya erupsi. Mereka percaya sedekah gunung akan menjaga Gunung Merapi.
Setyawan dan Saddhono, (2018) menyatakan bahwa masyarakat memiliki sugesti bahwa dengan melaksanakan tradisi leluhur dan upacara adat, mereka akan terhindar dari marabahaya. Hal tersebut menjadi penguat bahwa sedekah gunung dan tradisi lokal lainnya akan selalu dilaksanakan untuk menjaga masyarakat sekitar dari marabahaya Gunung Merapi.
Kearifan lokal yang ada di masyarakat Lereng Merapi merupakan respons terhadap lingkungan di sekitarnya. Kepercayaan dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut memperkuat pola perilaku masyarakat dalam melestarikan alam dan lingkungannya. Era globalisasi saat ini diharapkan tidak menggeser atau bahkan menghilangkan makna dari setiap tradisi budaya yang ada.
Setiap kearifan lokal yang membawa nilai positif dari leluhur wajib untuk diturunkan kepada generasi muda selanjutnya. Para leluhur yang mengembangkan kearifan lokal untuk selalu bertahan dari bahaya dan krisis yang mengancam pada saat itu menjadi pola yang bisa diterapkan sampai kapan pun.
Banyak kearifan lokal yang berkembang menjadi budaya tidak hanya di Lereng Merapi, tapi juga di seluruh kepulauan yang ada di Indonesia, seperti Sasi di Maluku dan Papua, Awig-awig di Lombok dan Bali, Rimbo Larangan di Sumatra Barat. Tentunya di setiap etnis mempunyai kearifan lokal yang berbeda dengan Lereng Merapi, namun semua dilakukan untuk menjaga dan melestarikan alam.
Hal ini dikarenakan setiap suku yang ada di Indonesia mempunyai tantangan alam dan kebutuhan yang berbeda-beda sehingga mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang berbeda, tapi sangat penting untuk tetap diabadikan agar kelestarian alam di Indonesia terus berlanjut dan lestari.
Literature:
- Wahyu, S dan Saddhono. (2018). Ceprotan Performing Art: A Traditional Folk Art Based on Urban Legend. Universitas Sebelas Maret, Indonesia.
- M.dkk. (2010). Dampak Sosial dari Letusan Gunung Merapi Tahun 2010 pada Masyarakat di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jurnal Mediasi Vol. 4 No. 2 (Agustus 2025) Hal. 457-468.
Redaksi menerima artikel opini dengan panjang cerita minimal 700 kata, dan tidak sedang dikirim ke media lain. Sumber rujukan disebutkan lengkap pada tubuh tulisan. Kirim tulisan ke e-mail redaksibenua@gmail.com disertai dengan foto profil, nomor kontak, dan profil singkat












Leave a Reply
View Comments