- Sungai-sungai Pohuwato yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi aliran keruh akibat tambang emas ilegal yang tak terkendali.
- Di balik rusaknya lingkungan, warga—terutama perempuan dan petani—menanggung beban berlapis, dari krisis air bersih hingga ancaman kehilangan penghidupan.
- Ketika kerusakan terus dibiarkan, yang tersisa bukan hanya bencana ekologis, tetapi juga masa depan yang kian tergerus.
Pagi itu, air Sungai Popayato tidak lagi bening. Warnanya berubah menjadi cokelat keruh, seperti kopi susu yang diaduk tergesa-gesa. Di tepian sungai, Samin Ahmad (52) berdiri dengan wajah muram. Ia menatap aliran air yang dulunya menjadi sumber kehidupan bagi keluarganya.
“Dulu kami minum dari sini,” katanya pelan. “Sekarang, ikan saja sudah hilang.”
Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran
DANA
gopay
OVO
ShopeePay
QRIS
Dan lainnya















Leave a Reply
View Comments