B+Kebun Sawit Rasa Kolonial: Buruh Masih Terus Terpinggirkan

Petani plasma Buol menuntut keadilan atas lahan mereka kepada PT HIP. KPPU pun Juli lalu memutuskan kalau perusahaan sawit ini melanggar kesepakatan kemitraan. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia
Petani plasma Buol menuntut keadilan atas lahan mereka kepada PT HIP. KPPU pun Juli lalu memutuskan kalau perusahaan sawit ini melanggar kesepakatan kemitraan. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia
  • Berbagai pola lama khas kolonialisme masih ada di perkebunan sawit hingga kini. Struktur dan peristilahan kolonial seperti afdeling atau komidel masih jadi bagian dari keseharian di kebun sawit. Walaupun industri ini sudah lama, kondisi buruh perkebunan sawit masih jauh dari ideal. Mereka masih terus terpinggirkan.
  • Rizal Assalam, Koordinator Transnational Palm Oil Labour Solidarity Network (TPOLS) mengatakan, enam poin penting masalah ini masih sangat relevan dan tak pernah berubah lebih 100 tahun industri sawit beroperasi di Indonesia sejak 1911. Kondisi buruh di industri sawit sangat tipikal, atau tak ada perubahan dari masa ke masa.
  • Dianto Arifin, dari Serikat Pekerja Sawit Indonesia mengatakan, sebagian besar buruh, tak memiliki jaminan kerja layak, karena perusahaan seringkali menerapkan sistem pengupahan berdasarkan satuan hasil kerja dan satuan waktu. Kondisi ini, membuat mereka jadi kelompok rentan kecelakaan kerja, apalagi tak ada pemeriksaan kesehatan memadai oleh perusahaan.
  • Uli Arta Siagian, Manajer Kampanye Hutan dan Perkebunan Walhi Nasional, mengatakan,  ekspansi perkebunan sawit skala besar,  berdampak tak hanya lingkungan, juga menciptakan tenaga kerja murah. Wilayah masyarakat adat dan komunitas lokal bisa saja perusahaan ambil untuk jadi kebun sawit.

Berbagai corak purbakala khas kolonialisme masih ditemui di perkebunan sawit saat ini. Struktur dan peristilahan kolonial seperti Afdeling atau Komidel adalah bagian dari keseharian masyarakat kebun. Walaupun industri ini sudah ratusan tahun lamanya, kondisi buruh perkebunan sawit masih jauh dari ideal. Mereka masih terus terpinggirkan.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.