B+Risiko Konversi 2,7 Juta Hektar Karet jadi Sawit

Kebun sawit PT SPN yang diduga masuk kawasan hutan lindung. Foto: Yayasan Komiu
Kebun sawit PT SPN yang diduga masuk kawasan hutan lindung. Foto: Yayasan Komiu
  • Kementerian Pertanian (Kementan) berencana mengonversi 2,7 juta hektar kebun karet ‘tak produktif’ jadi perkebunan sawit. Kementan klaim, langkah bagian dari strategi percepatan hilirisasi sawit untuk memperkuat ketahanan energi dan ekonomi nasional. Berbagai kalangan mengingatkan, bahaya dari rencana ini.
  • Berbagai kalangan mengkritik niatan itu. Mereka menyatakan, mengonversi 2,7 juta hektar kebun karet menjadi perkebunan sawit akan merusak industri karet, berdampak ke lingkungan, bahkan bisa mendorong deforestasi baru di Indonesia. Ia juga akan menambah masalah baru di industri sawit.
  • Edy Irwansyah, Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara (Sumut), memperingatkan polemik serius dampak  rencana konversi lahan karet menjadi perkebunan sawit yang diklaim untuk memperkuat ketahanan energi.
  • Achmad Surambo, Direktur Eksekutif Sawit Watch, memperingatkan ekspansi perkebunan sawit di Indonesia telah melampaui ambang batas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, terutama di wilayah-wilayah yang rentan secara ekologis. Dengan mengonversi 2,7 juta  hektar lahan karet menjadi perkebunan sawit akan melebihi daya dukung dan daya tampung lingkungan. Kebijakan perluasan sawit ini, katanya,  berisiko memperparah krisis lingkungan.

Kementerian Pertanian (Kementan) berencana mengonversi 2,7 juta hektare lahan karet yang tidak produktif menjadi perkebunan kelapa sawit. Langkah ini menjadi bagian dari strategi percepatan hilirisasi komoditas sawit untuk memperkuat ketahanan energi dan ekonomi nasional.

Rencana tersebut dibahas dalam rapat maraton yang digelar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada akhir pekan, 28–29 Juni 2025. Rapat berlangsung di kediaman pribadi Mentan Amran dan dihadiri pejabat eselon I Kementan serta sejumlah mitra teknis terkait.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.