Berpikir Ekologis di Tengah Krisis Sosial-Ekonomi

Manusia dan alam saling bergantung, sehingga keduanya harus dijaga secara adil dan bersama-sama.

Hutan Alam yang diduga ditebang di wilayah konsesi PT BTL dan PT IGL. (Foto: FWI)
Hutan Alam yang diduga ditebang di wilayah konsesi PT BTL dan PT IGL. (Foto: FWI)
  • Krisis sosial-ekonomi dan krisis ekologi saling berkaitan, karena ketimpangan dapat mendorong eksploitasi manusia dan alam.
  • Manusia dan alam merupakan satu kesatuan, sehingga kerusakan alam pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan manusia.
  • Berpikir ekologis berarti menjaga alam secara adil dan bersama-sama, bukan mengeksploitasinya demi kepentingan segelintir orang.

Barangkali, di tengah hiruk-pikuk krisis sosial dan ekonomi, cara berpikir ekologis justru mesti dibangun dan ditegaskan kembali. Ini bukan berarti kita mengabaikan kondisi sosial-ekonomi yang kita hadapi saat ini. Sebaliknya, kita harus menyadari bahwa krisis sosial dan ekonomi pada hakikatnya berdampak langsung terhadap krisis ekologi. Mengapa demikian? Karena ketika kondisi sosial dan ekonomi sangat memprihatinkan, perhatian terhadap ekologi akan menjadi hal yang paling pertama dikesampingkan.

Murray Bookchin, seorang pemikir sosialis libertarian dan anarkis asal Amerika Serikat (1921–2006), menempatkan paradigma ekologis dalam konteks sosial yang dihadapi masyarakat. Bagi Bookchin, kondisi sosial manusia dan kondisi alam memiliki hubungan timbal balik yang tak terpisahkan. Ia melihat bahwa kerusakan alam bukanlah fenomena baru; benihnya telah tertanam ribuan tahun lalu, seiring dengan munculnya sistem hierarki dan dominasi dalam kehidupan manusia.

Tentu saja, krisis ekologi yang kita rasakan saat ini tidak persis sama dengan kerusakan di masa lampau. Namun, logika dominasi manusia atas manusia yang telah dipraktikkan sejak ribuan tahun silam itulah yang pada akhirnya melahirkan dan melanggengkan dominasi manusia atas alam.

Untuk menjelaskan hubungan ini, Bookchin membedakan realitas kehidupan menjadi dua. Pertama, Alam Pertama (First Nature) yakni dunia biologis, evolusi, ekosistem, flora, dan fauna yang telah ada jauh sebelum manusia. Kedua, Alam Kedua (Second Nature) yakni dunia ciptaan manusia: budaya, masyarakat, institusi, teknologi, dan bahasa.

Manusia, dalam pandangan Bookchin, bukanlah penguasa atas Alam Pertama, melainkan bagian darinya yang berkembang melalui Alam Kedua. Permasalahannya kemudian menjadi jelas: mungkinkah Alam Kedua yang merupakan ciptaan manusia justru menjadi kekuatan yang melestarikan Alam Pertama, alih-alih menghancurkannya?

Baca juga:  Air Tanah dan Krisis Tersembunyi

Krisis Sosial dan ekonomi

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu melihat kondisi sosial dan ekonomi dunia saat ini. Dunia tengah diliputi berbagai krisis yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Hampir setiap hari telinga kita disuguhi berita tentang perang, perdagangan manusia, hewan, dan tumbuhan, serta berbagai peristiwa sosial lainnya yang menegaskan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Di sisi lain, kondisi ekonomi global semakin memburuk akibat kompetisi yang berujung pada saling menjatuhkan, baik antarpribadi, antarkelompok, maupun antarnegara.

Data terkini memperkuat gambaran suram ini. Menurut laporan Humanitarian Action yang dirilis pada 8 Agustus 2026, terdapat 239 juta orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan dan perlindungan mendesak di tengah konflik yang berkepanjangan. Belum lagi krisis kemanusiaan di Gaza dan Sudan, di mana perang telah merenggut ratusan ribu korban jiwa dan memaksa jutaan orang terusir dari tanah mereka.

Akar dari semua krisis ini tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan struktural yang masih terus berlangsung. World Inequality Report 2026 mencatat bahwa 10% orang terkaya di dunia menguasai 75% kekayaan global, sementara 50% orang termiskin hanya memegang 2%. Data ini membuktikan bahwa fenomena proletar dan borjuis yang pernah diuraikan oleh Karl Marx bukanlah teori usang, melainkan realitas yang masih hidup hingga hari ini. Ketidaksetaraan ekonomi pada akhirnya melahirkan ketimpangan relasi kuasa: ada manusia yang mendominasi manusia lainnya.

Saya kira, ketika ekonomi didominasi oleh kelompok tertentu yang berwatak kapitalistik, rakyat kelas bawah akan dimanipulasi melalui narasi-narasi pembangunan dan pertumbuhan, padahal tujuan sebenarnya adalah mengakumulasi kekayaan bagi segelintir pemilik modal. Tanah, air, dan hutan mereka dirampas atas nama “kepentingan nasional” atau “investasi,” sementara rakyat hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri.

Baca juga:  Ketika AI Mengancam Bumi: Dimensi Baru Keamanan Lingkungan Global

Lantas, apa dampaknya terhadap ekologi? Di sinilah pandangan Murray Bookchin menjadi sangat relevan. Menurut Bookchin, ketimpangan sosial dan ekonomi adalah bukti nyata bahwa logika dominasi akan terus berlanjut hingga akhirnya menyentuh dan merusak alam. Lihat saja bagaimana banyak proyek besar diciptakan oleh segelintir orang hanya untuk memperkaya diri mereka sendiri, tanpa memedulikan kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya.

Ketika praktik dominasi itu mengakar, maka segala sesuatu yang ada di dunia ini manusia, hewan, tumbuhan, sungai, dan hutan akan diperlakukan semata-mata sebagai milik dan sumber eksploitasi bagi mereka yang berkuasa.

Membangun berpikir Ekologis

Apa artinya berpikir ekologis di tengah ketimpangan sosial dan ekonomi? Berpikir ekologis bukanlah sekadar upaya menjaga lingkungan hidup agar tetap baik dan lestari. Lebih dari itu, ia merupakan kerangka berpikir yang menyeluruh dan holistik—sebuah cara pandang yang melihat bahwa segala sesuatu di alam semesta ini saling terhubung satu sama lain dalam sebuah jejaring kehidupan.

Jejaring kehidupan di sini bukan berarti kita tidak boleh melakukan intervensi terhadap alam, seperti mengendalikan hama dalam pertanian. Namun, dalam konteks kemanusiaan, kesadaran akan jejaring ini mengajak kita untuk memahami bahwa keadilan di antara sesama manusia adalah fondasi untuk membangun kesadaran kolektif bahwa kita semua sedang berjalan bersama di satu bumi yang sama.

Cara berpikir ekologis juga menegaskan bahwa alam dan manusia bukanlah dua entitas yang saling bermusuhan. Apabila sesama manusia mampu membangun keadilan dan kesetaraan di antara mereka, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk menjadikan alam sebagai musuh. Alam adalah rumah tempat tinggal manusia. Ketika manusia merusak alam, pada hakikatnya ia sedang merusak dirinya sendiri.

Baca juga:  Mitos Harmoni Jepang dengan Alam yang Terkoyak Sejarah

Hal ini karena manusia tidak bisa hidup dalam keterpisahan dari alam; ia hidup bersama dan bergantung padanya. Setiap hari manusia menginjakkan kaki di atas tanah, dan dari tanah itulah ia memperoleh penghidupan. Lantas, mungkinkah tempat tinggal dan sumber penghidupan yang menopang hidupnya setiap hari justru dirusak oleh tangannya sendiri? Lebih jauh lagi, merusak sebagian dari alam sebetulnya berarti merusak kehidupan manusia lainnya.

Lihat saja, betapa banyak proyek-proyek besar yang merusak alam dan secara tidak langsung berdampak buruk terhadap kehidupan manusia lain. Manusia lain seakan-akan diperbudak oleh kebijakan-kebijakan yang mengatasnamakan pembangunan, padahal sesungguhnya mengorbankan lingkungan hidup mereka. Akibatnya, di antara manusia ada yang terpapar kemiskinan dan ketimpangan sosial, sementara segelintir lainnya bersenang-senang meraup keuntungan dan semakin kaya di atas penderitaan sesama.

Oleh karena itu, berpikir ekologis mengajak kita semua untuk menyadari bahwa alam adalah tempat tinggal bagi seluruh makhluk hidup—bukan hanya milik satu kelompok atau segelintir orang saja. Apabila salah satu pihak mendominasi dan mengeksploitasi alam secara berlebihan, maka kelestarian alam tidak akan terjaga, dan pada akhirnya semua manusia akan merasakan dampaknya tanpa terkecuali. Ingatlah bahwa alam semesta ini diciptakan untuk ditempati dan dirawat secara bersama-sama, bukan untuk dimiliki dan dieksploitasi oleh sekelompok orang tertentu.

 


Redaksi menerima artikel opini dengan panjang cerita minimal 700 kata, dan tidak sedang dikirim ke media lain. Sumber rujukan disebutkan lengkap pada tubuh tulisan. Kirim tulisan ke e-mail redaksibenua@gmail.com disertai dengan foto profil, nomor kontak, dan profil singkat

Seorang mahasiswa Program Studi Filsafat Keilahian di Universitas Sanata Dharma. Aktif dalam Unit Kegiatan Fakultas Jurnalistik, serta saat ini berdomisili di Biara Wisma Sang Penebus, Yogyakarta.