- Hutan Ranjuri di Sigi menjadi contoh nyata bagaimana pelestarian alam, adat, dan ekonomi lokal dapat berjalan beriringan melalui praktik ekonomi restoratif.
- Batik Valiri memanfaatkan kekayaan hayati hutan sebagai pewarna alami, sekaligus mengangkat budaya lokal tanpa merusak ekosistem.
- Kolaborasi masyarakat, pendampingan, dan kearifan lokal membuktikan bahwa pembangunan berkelanjutan bisa menjadi sumber kesejahteraan daerah.
Di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, praktik pembangunan lestari tidak selalu dimulai dari proyek besar. Di Desa Beka, Kecamatan Marawola, sebuah hutan kecil seluas sekitar 9 hektare menunjukkan bagaimana alam, adat, budaya, dan ekonomi lokal dapat saling menguatkan. Hutan Ranjuri, yang dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat adat, menjadi sumber air, penyangga bencana, ruang budaya, sekaligus sumber inspirasi dan pewarna alami bagi Batik Valiri.
Melalui Batik Valiri, Hutan Ranjuri menjadi contoh bagaimana visi kabupaten lestari dapat diterjemahkan ke dalam praktik ekonomi restoratif di tingkat komunitas. Ketika hutan dijaga, budaya dihidupkan, dan masyarakat dilibatkan, nilai ekonomi dapat tumbuh tanpa harus memisahkan kesejahteraan dari perlindungan lingkungan.
Hutan Ranjuri disebut sebagai benteng ekologis yang melindungi desa dari banjir bandang dan kekeringan. Saat banjir bandang melanda Sigi, hutan ini menjadi penyangga alami. Saat kemarau, sumber air bersih warga berasal dari kawasan yang sama. Secara administratif, kawasan ini berstatus hutan produktif, tetapi secara sosial dijaga sebagai ruang sakral dan sumber kehidupan.
Dari hutan inilah Batik Valiri menemukan warna dan cerita. Batik khas Sigi ini menggunakan motif yang terinspirasi dari flora, fauna, nilai budaya, dan sejarah lokal. Salah satunya adalah motif Pohon Rau dari Hutan Ranjuri, selain motif daun kelor, senjata tradisional guma, jejak megalitik, dan taiganja yang memiliki makna penting dalam tradisi Kaili.

Kekayaan hayati Ranjuri
Pendiri Batik Valiri, Afrianto atau Anto, mendirikan usaha ini pada 2019 setelah bertahun-tahun bekerja sebagai karyawan batik di Kota Palu. Ia melihat bahwa kekayaan alam, budaya, dan sejarah Sigi belum banyak diangkat dalam kain batik.
“Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat. Dari hutan Ranjuri saja, yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat produksi, saya melihat ada banyak hal yang bisa diangkat, termasuk pewarna alami yang bisa dikembangkan dari tanaman di dalam hutan purba tersebut,” ujar Anto.
Dari sisi produksi, Batik Valiri mulai mengembangkan pewarna alami dari kekayaan hayati Hutan Ranjuri. Daun rau menghasilkan rona krem yang lembut, daun mangga memberi sentuhan kuning kehijauan, sementara daun kayu jati dan ketapang menciptakan nuansa cokelat kemerahan serta hitam. Warna-warna ini lahir dari material alam di sekitar masyarakat dan menjadi bagian dari cerita Batik Valiri tentang gotong royong, penghormatan terhadap adat, dan masa depan ekonomi yang berpijak pada kelestarian hutan.
Proses pewarnaan alami membutuhkan kesabaran. Dari sepuluh kilogram daun kering, hanya cukup untuk mewarnai sekitar lima lembar kain. Prosesnya melibatkan perebusan hingga empat jam dan pencelupan berulang sampai dua puluh kali agar warna meresap sempurna.
“Kalau pewarna sintetis cukup satu kali celup, warna langsung keluar. Tapi pewarna alami butuh kesabaran. Itu yang membuat nilainya berbeda,” kata Anto.
Dalam pemanfaatan bahan alam, masyarakat adat Desa Beka hanya mengambil daun yang telah gugur, tanpa menebang pohon. Pengelolaan hutan dilakukan melalui rembuk bersama tokoh adat, dan setiap aktivitas di kawasan Ranjuri harus melalui izin adat. Praktik ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan sumber daya alam dapat dilakukan secara bijak ketika masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam pengelolaannya.

Pewarna tak merusak ekosistem
Transisi Batik Valiri menuju pewarna alami diperkuat melalui program inkubasi Gampiri Interaksi. Melalui pendampingan selama delapan bulan, Gampiri Interaksi membantu Batik Valiri memperkuat tata kelola kelembagaan, menyusun standar operasional produksi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta membuka akses pasar dan permodalan. Pendampingan ini juga sejalan dengan dorongan Dinas Lingkungan Hidup yang pada 2024 mendorong pemanfaatan pewarna alami dari Hutan Ranjuri.
“Batik Valiri sudah kuat secara sosial dan budaya, tapi aspek lingkungannya perlu diperkuat. Lewat workshop dan kolaborasi, kami mendorong transisi ke pewarna alami tanpa merusak ekosistem,” kata Nedya Sinintha Maulaning, Perwakilan Gampiri Interaksi.
Workshop pewarna alami melibatkan karyawan Batik Valiri dan masyarakat desa. Mereka diperkenalkan pada teknik ekstraksi warna, penguncian warna menggunakan bahan alami seperti kapur sirih dan tunjung dari besi, serta pentingnya regenerasi tanaman pewarna. Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan, dilakukan pula penanaman kembali pohon mangga, ketapang, dan jati di kawasan Ranjuri, serta program adopsi pohon yang pada 2023 mencakup sekitar 50 pohon.
Batik Valiri kini menjadi bagian dari transformasi Kabupaten Sigi menuju kabupaten lestari dengan menghadirkan praktik ekonomi yang berakar pada nilai lokal dan keberlanjutan. Melalui penguatan usaha berbasis komunitas, pemanfaatan sumber daya secara bijak, dan penciptaan nilai tambah di tingkat lokal, Batik Valiri turut mendorong ekonomi restoratif yang meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi daerah.
Sejalan dengan visi Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), inisiatif ini menunjukkan bahwa pembangunan dapat bertumpu pada kekuatan lokal, menjaga alam, dan menumbuhkan kesejahteraan secara berkelanjutan. Ini menegaskan peran Sigi dalam gerakan kolektif kabupaten lestari di Indonesia.
Bagi Gampiri Interaksi dan LTKL, Batik Valiri menjadi contoh konkret ekonomi restoratif yang berjalan di lapangan. Ketika hutan dijaga, budaya dihidupkan, dan masyarakat dilibatkan, kesejahteraan dapat tumbuh tanpa harus memilih antara ekonomi atau lingkungan. Di Kabupaten Sigi, yang sekitar 70 persen wilayahnya merupakan kawasan hutan, praktik seperti ini menunjukkan bahwa pemulihan alam justru dapat menjadi fondasi pemulihan ekonomi.












Leave a Reply
View Comments