- Multiusaha kehutanan memperlihatkan paradoks mendasar: praktik eksploitasi dan klaim konservasi berjalan bersamaan dalam satu ruang yang sama.
- Model ini tidak menyelesaikan konflik antara kepentingan ekonomi dan ekologi, melainkan mengelolanya menjadi strategi akumulasi keuntungan yang dibungkus narasi keberlanjutan.
- Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah solusi krisis iklim, melainkan ilusi hijau yang justru memperpanjang logika ekstraktif terhadap hutan.
Di atas kertas, konsep multiusaha kehutanan terdengar menjanjikan. Negara memberi ruang bagi satu entitas untuk mengelola hutan secara terpadu—memanen kayu, memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sekaligus menjaga ekosistem melalui skema jasa lingkungan seperti perdagangan karbon. Sebuah formula yang, setidaknya secara teoritis, mencoba menjahit ulang hubungan antara ekonomi dan ekologi yang selama ini koyak.
Namun, begitu konsep itu turun ke lapangan, yang muncul bukanlah harmoni, melainkan kontradiksi yang nyaris telanjang.
Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran
DANA
gopay
OVO
ShopeePay
QRIS
Dan lainnya












Leave a Reply
View Comments