B+Anomali Multiusaha Kehutanan: Ketika Eksploitasi Berpakaian Hijau

Hutan Alam yang diduga ditebang di wilayah konsesi PT BTL dan PT IGL. (Foto: FWI)
Hutan Alam yang diduga ditebang di wilayah konsesi PT BTL dan PT IGL. (Foto: FWI)
  • Multiusaha kehutanan memperlihatkan paradoks mendasar: praktik eksploitasi dan klaim konservasi berjalan bersamaan dalam satu ruang yang sama.
  • Model ini tidak menyelesaikan konflik antara kepentingan ekonomi dan ekologi, melainkan mengelolanya menjadi strategi akumulasi keuntungan yang dibungkus narasi keberlanjutan.
  • Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah solusi krisis iklim, melainkan ilusi hijau yang justru memperpanjang logika ekstraktif terhadap hutan.

Di atas kertas, konsep multiusaha kehutanan terdengar menjanjikan. Negara memberi ruang bagi satu entitas untuk mengelola hutan secara terpadu—memanen kayu, memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sekaligus menjaga ekosistem melalui skema jasa lingkungan seperti perdagangan karbon. Sebuah formula yang, setidaknya secara teoritis, mencoba menjahit ulang hubungan antara ekonomi dan ekologi yang selama ini koyak.

Namun, begitu konsep itu turun ke lapangan, yang muncul bukanlah harmoni, melainkan kontradiksi yang nyaris telanjang.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.