B+Tarik Ulur Bea Batu Bara

Siapa diuntungkan dari penundaan bea batu bara?

Sebuah tongkang batubara sedang melintasi sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur. Foto: Kemal Jufri/Greenpeace.
Sebuah tongkang batubara sedang melintasi sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur. Foto: Kemal Jufri/Greenpeace.
  • Penundaan bea keluar batu bara bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menyangkut keberanian negara memastikan kekayaan alam memberi manfaat yang lebih besar bagi rakyat.
  • Di tengah tekanan fiskal dan kebutuhan transisi energi, bea keluar batu bara berpotensi menjadi instrumen penting untuk memperkuat penerimaan negara sekaligus mendorong ekonomi yang lebih berkelanjutan.
  • Tanpa kebijakan yang tegas dan pengawasan yang kuat, keuntungan batu bara akan terus terkonsentrasi pada segelintir pihak, sementara negara dan masyarakat menanggung biaya sosial, lingkungan, dan ekonomi yang jauh lebih besar.

Dalam kondisi fiskal saat ini, di mana APBN berpotensi mengalami tekanan hingga mendekati batas defisit 3% dari produk domestik bruto (PDB), negara perlu mengambil langkah nyata untuk memperkuat penerimaan. Bea keluar batu bara adalah instrumen yang sah, rasional, dan mendesak untuk ditata lebih berpihak pada kesejahteraan rakyat melalui penerimaan negara.

Transisi Bersih, sebuah think tank independen di bidang ekonomi dan lingkungan hidup yang berbasis di Indonesia, menilai bahwa bea keluar batu bara bukan sekadar isu fiskal, melainkan juga soal keadilan. Berdasarkan hal tersebut, Transisi Bersih mendesak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengimplementasikan kebijakan bea keluar batu bara sesuai rencana, dengan tarif awal antara 5%–11%, tanpa penundaan lebih lanjut.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Kakao Indonesia Kelas Dunia
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.