- Kayu yang digunakan kendaraan rekreasi (RV – recreational vehicle) terlaris di Amerika Serikat terhubung dengan penggundulan hutan tropis di Kalimantan.
- Industri RV kini merupakan pengguna terbesar kayu tropis di Amerika Serikat, diperkirakan memakai 500 pohon dewasa per hari.
- Rantai pasok Thor Industries, Forest River, dan Winnebago, ketiganya mencakup 86% kendaraan rekreasi yang terjual di Amerika Serikat, seluruhnya tercemar kayu deforestasi.
- Pasokan kayu Jayco, merk kendaraan rekreasi terlaris di Amerika Serikat, terhubung dengan penghancuran habitat orangutan seluas tiga kali lapangan bola per hari.
- Temuan-temuan ini bertolak belakang dengan komitmen perusahaan pembuat kendaraan rekreasi mengenai alam dan keberlanjutan.
Bunyi gergaji mesin meraung di tengah rerimbunan yang kian menipis di Kalimantan. Tak jauh dari sana, truk-truk pengangkut kayu lalu-lalang membawa gelondongan yang baru saja ditebang. Jejak mereka tertinggal hingga ribuan kilometer jauhnya—di Amerika Serikat, di mana kayu-kayu tropis asal Indonesia itu berubah rupa menjadi panel-panel dinding, lantai, dan langit-langit kendaraan rekreasi (recreational vehicle/RV) yang gemerlap.
Dalam laporan investigatif bertajuk Unhappy Campers, organisasi nirlaba asal Inggris, Earthsight, bersama lembaga advokasi lingkungan Indonesia, Auriga Nusantara, mengungkap keterkaitan antara pembabatan hutan tropis di Kalimantan dan industri kendaraan rekreasi bernilai miliaran dolar di Amerika Serikat.
Penelusuran selama berbulan-bulan itu menyisir jalur pasok kayu tropis dari hutan Kalimantan hingga pabrik-pabrik di AS yang memproduksi RV dengan merek-merek kenamaan seperti Jayco, Winnebago, dan Forest River.
Baca juga: Nyawa Buruh kembali Melayang di Kawasan Industri IMIP
Investigasi dimulai dari Kalimantan, salah satu benteng terakhir hutan hujan tropis di Asia Tenggara. Tim Earthsight dan Auriga mendatangi lokasi-lokasi terpencil yang sebelumnya merupakan hutan alam—tempat tinggal orangutan dan berbagai spesies endemik—namun kini telah berubah menjadi ladang gundul untuk kebun kayu monokultur.
Di wilayah ini, PT Indosubur Sukses Makmur disebut sebagai perusahaan yang melakukan pembukaan lahan secara besar-besaran. Penduduk setempat mengeluhkan penebangan pohon dan pembabatan hutan ini memutus akses terhadap sumber daya hutan sebagai mata pencaharian mereka, pun minimnya komunikasi dan kompensasi oleh PT Indosubur Sukses Makmur.

Tak hanya merampas ruang hidup masyarakat lokal dan habitat satwa liar, penebangan itu juga mempercepat krisis iklim global. Sejak 1990, Indonesia telah kehilangan sekitar 23 juta hektare hutan tropis—setara 20 persen dari total hutan yang ada.
Investigasi tak berhenti di lapangan. Tim peneliti menganalisis dokumen pengiriman, data ekspor-impor, serta laporan keuangan berbagai perusahaan. Mereka menelusuri jejak kayu yang ditebang di Kalimantan menuju ke PT Kayu Lapis Alam Makmur (KLAM), sebuah produsen kayu lapis besar di Indonesia.
Pada tahun 2024, sebanyak 87 persen pasokan kayu KLAM diketahui berasal dari wilayah deforestasi yang dikunjungi tim investigasi. Sebagian kayu-kayu ini kemudian diekspor ke dua perusahaan besar di Amerika Serikat: MJB Wood dan Tumac Lumber.
Baca juga: Antisipasi dan Atasi Polusi dengan Penerapan BBM Standar Euro IV
Kedua perusahaan itu menjadi mata rantai penting dalam industri kendaraan rekreasi di AS. MJB Wood, misalnya, merupakan pemasok utama kayu lapis tropis lauan untuk Jayco, salah satu produsen RV terlaris di negara itu.
Selain Jayco, MJB dan Tumac juga menyuplai bahan baku ke Patrick Industries, pemasok suku cadang kendaraan rekreasi yang pelanggannya mencakup hampir seluruh raksasa industri RV di Amerika. Kliennya mencakup Thor Industries (pemilik Jayco), Forest River, dan Winnebago.

Meski tidak ada bukti langsung yang menunjukkan RV tertentu menggunakan kayu hasil deforestasi Kalimantan, data yang dikumpulkan menunjukkan keterkaitan yang kuat antara perusahaan-perusahaan RV di Amerika dan penggunaan kayu lapis tropis dari rantai pasok yang tercemar.
Yang ironis, banyak produsen RV di Amerika gencar mempromosikan nilai keberlanjutan dan kecintaan terhadap alam kepada konsumennya. Situs resmi perusahaan-perusahaan ini dipenuhi narasi tentang “komitmen terhadap lingkungan”, “produksi bertanggung jawab”, hingga “keberlanjutan sebagai inti dari visi perusahaan”.
Namun laporan ini membuktikan sebaliknya. Padahal, alternatif ramah lingkungan sebenarnya sudah tersedia. Indonesia memiliki banyak produsen kayu lapis dengan sertifikasi FSC (Forest Stewardship Council), yang menjamin bahwa kayu berasal dari hutan yang dikelola secara lestari.
Baca juga: Hutan Sosial, Klinik Hijau di Masela
Earthsight memperkirakan bahwa biaya tambahan untuk menggunakan kayu bersertifikat hanya sekitar US$20 atau setara Rp 325.000 per kendaraan – angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan harga rata-rata sebuah RV yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan ribu dolar. Namun sayangnya, industri RV memilih jalan yang lebih murah – dan lebih merusak.
Sebelum laporan ini dipublikasikan, Earthsight dan Auriga telah menghubungi semua perusahaan yang disebutkan dalam investigasi untuk memberikan kesempatan merespons. Namun hingga batas waktu yang ditentukan, tidak ada satu pun yang memberikan tanggapan.
Ini menunjukkan betapa rendahnya komitmen transparansi dan tanggung jawab sosial dari para pemain besar industri kendaraan rekreasi, meskipun mereka kerap menjual citra ramah lingkungan dan cinta alam kepada para konsumennya.

Timer Manurung, Ketua Auriga Nusantara mengatakan, ndonesia telah kehilangan 23 juta hektar, atau 20%, hutan tropisnya sejak 1990, kerugian yang luar biasa besar terhadap iklim, ekosistem, dan masyarakat lokal pun adat Indonesia.
“Perusakan ini harus dihentikan. Saatnya pembeli, baik di Amerika Serikat maupun negara lainnya, memastikan tidak ada jejak deforestasi Indonesia pada rantai pasoknya,” kata Times dalam melalui Siaran Pers.
Senada dengan itu, Sam Lawson, Direktur Earthsight, mengatakan, para pemilik kendaraan rekreasi yang mencintai alam mungkin akan sangat terkejut mengetahui bahwa hobi mereka justru berkontribusi terhadap kehancuran hutan hujan tropis.
Baca juga: Pisau Bermata Dua Penertiban Kawasan Hutan
“Sudah waktunya industri kendaraan rekreasi keluar dari mentalitas era 1980-an dan mengadopsi standar keberlanjutan sebagaimana perusahaan-perusahaan modern lainnya,” pungkasnya.
Temuan ini menggambarkan paradoks besar dalam gaya hidup modern: di satu sisi, ada dorongan untuk kembali ke alam dan menjelajah keindahan liar dunia dengan kendaraan rekreasi; namun di sisi lain, bahan baku untuk kendaraan-kendaraan itu justru berasal dari tindakan yang menghancurkan alam itu sendiri.
Kini, bola ada di tangan para produsen RV dan konsumen Amerika Serikat. Apakah mereka akan memilih kenyamanan sesaat, atau mulai mempertanyakan asal-usul produk yang mereka gunakan dan dampaknya terhadap planet ini?. (Rls)










Leave a Reply
View Comments