- Agroforestri pampa di Desa Moa menunjukkan bahwa pelestarian hutan bisa tumbuh dari akar budaya, bukan hanya dari kebijakan negara.
- Melalui kearifan perempuan adat, sistem ini memadukan pertanian dan kehutanan untuk menjaga keseimbangan ekologi sekaligus memastikan ketahanan pangan keluarga.
- Pampa bukan sekadar lahan, tetapi ruang hidup yang menegaskan hubungan spiritual dan sosial antara manusia dan alam.
- Dari tangan perempuan adat Moa, lahir bukti bahwa tradisi bisa menjadi fondasi bagi masa depan bumi yang berkeadilan dan lestari.
Pagi di Desa Moa selalu dimulai dengan kesunyian yang hidup. Kabut tipis turun di antara lereng Kulawi Selatan, menyelubungi hamparan kebun yang membentang di kaki Pegunungan Gawalise.
Di sebuah rumah, Elisabet Heta, 52 tahun, tengah sibuk menyiapkan bekal. Di atas lantai, ia menata pisau, parang kecil, dan segenggam bibit cabai ke dalam baki—tas anyaman rotan dan bambu khas perempuan adat Moa. Setelah itu, tanpa banyak basa-basi, Elisabet bergegas keluar rumah.
Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran
DANA
gopay
OVO
ShopeePay
QRIS
Dan lainnya













Leave a Reply
View Comments