- Kebijakan ekowisata mangrove Balikpapan belum sepenuhnya sejalan dengan realitas dan kebutuhan warga pesisir.
- Sebagian besar warga belum merasakan manfaat ekonomi dari pengembangan ekowisata mangrove.
- Pengelolaan mangrove membutuhkan tata kelola yang lebih adaptif, transparan, dan memberi ruang lebih besar bagi masyarakat lokal.
Di lima kampung pesisir Teluk Balikpapan—Kariangau, Somber, Graha Indah, Margomulyo, dan Margasari—warga sudah lama hidup berdampingan dengan hutan mangrove yang menjadi rumah bagi bekantan (Nasalis larvatus), primata berhidung besar yang hanya ada di Kalimantan.
Bagi mereka, hutan bakau itu bukan destinasi wisata budaya yang eksotis, melainkan ladang kepiting dan ikan yang menopang dapur sehari-hari. Tapi di atas kertas kebijakan pemerintah kota, hutan yang sama itu dibingkai sebagai destinasi “ekokultural”—tujuan wisata yang memadukan konservasi alam dengan kearifan lokal dan tradisi budaya.
Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran
DANA
gopay
OVO
ShopeePay
QRIS
Dan lainnya













