BUMI di era modern sering menjadi topik perbincangan banyak orang. Namun, perbincangan ini bukan hanya tentang kemajuan teknologi, melainkan pada persoalan ekologi. Krisis ekologis berawal dari kenyataan bahwa bumi terus-menerus dieksploitasi oleh manusia. Penambangan dan pembabatan hutan terjadi di berbagai tempat; manusia hanya menikmati hasilnya sambil tersenyum, tanpa mendengar jeritan alam yang menderita.
Kita mungkin bertanya, apakah perilaku manusia seperti ini disebabkan oleh pandangan yang menempatkan dirinya sebagai makhluk paling sempurna di antara ciptaan lain, sehingga merasa berhak merusak alam demi kepentingan pribadi?
Melihat realitas tersebut, generasi The Builders (lahir sebelum 1945) mungkin akan berkata, “Dulu kami masih melihat banyak pepohonan, tetapi kini semuanya digantikan oleh tambang dan gedung-gedung.” Perkataan ini bukan tentang perbandingan zaman dahulu dan sekarang, tetapi realitas sudah menunjukan demikian bahwa alam sudah berubah warna.
Alam semesta dan Manusia Pertama
Jika direnungkan bersama-sama, Allah memberikan tugas kepada manusia untuk menguasai alam semesta tampaknya pertama-tama ditujukan kepada laki-laki. Laki-laki merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Hal ini tampak dalam Kejadian 1:26-27, ketika Allah berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,” dan kemudian diciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan.
Namun, pada tahap awal penciptaan, yang terlebih dahulu diciptakan adalah laki-laki, sementara perempuan belum ada. Dalam Kejadian 1:28, Allah bersabda, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
Perintah untuk berkuasa atas bumi ini pada awalnya hanya didengar oleh Adam, sebab pada saat itu Hawa belum diciptakan. Hawa baru hadir kemudian, di taman Eden, ketika Allah membuat Adam tertidur dan mengambil salah satu rusuknya untuk dijadikan perempuan (lih. Kej 2:21–24).
Baca juga: Perempuan dan Masa Depan Terhadap Lingkungan
Ayat ini tentu menimbulkan pertanyaan reflektif: mengapa Allah tidak menyampaikan perintah tersebut setelah Hawa diciptakan? Pertanyaan ini berangkat dari kesadaran bahwa alam semesta seharusnya dipahami sebagai milik bersama, bukan hanya milik laki-laki, melainkan juga perempuan. Namun, pertanyaan ini tidak mudah dijawab, sebab hanya Allah sendiri yang mengetahui maksud terdalam dari firman-Nya. Manusia dapat menafsirkan maknanya, tetapi setiap tafsir tetap bersifat terbatas.
Kendati demikian, ada hal menarik yang patut dicermati, yakni pengaruh kuat budaya patriarki dalam cara manusia memahami dan menafsirkan tentang Adam (laki-laki) sebagai mahkluk yang pertama diciptakan. Budaya patriarki yang telah berakar dalam banyak masyarakat di dunia ini sering kali membentuk cara pandang terhadap relasi antara laki-laki, perempuan, dan alam ciptaan itu sendiri.
Akibatnya, memahami atas kalimat ” berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan atas segala binatang yang merayap di bumi” cenderung menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa atas ciptaan, sementara peran perempuan dan hubungan harmonis dengan alam kerap terabaikan.
Kerusakan Alam, kapitalisme Patriarki dan Teknolgi
Vandana Shiva, dalam bukunya Ecofeminism (2014), mengangkat topik mendalam tentang kehidupan manusia di era antroposen, sebuah masa ketika manusia menempatkan dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu. Pandangan antroposentris ini melahirkan berbagai paradigma yang meneguhkan dominasi manusia atas alam, salah satunya adalah kapitalisme patriarki.
Sistem ini, menurut Shiva, tidak hanya menindas kaum perempuan, tetapi juga mengeksploitasi ekologi hingga titik kehancuran (Vandana Shiva dan Maria Mies, 2014). Perlu diingat bahwa perempuan dan alam memiliki peran yang sama sebagai pelayan kehidupan. Alam menyediakan segala kebutuhan bagi manusia, sementara perempuan melahirkan dan memelihara kehidupan manusia yang rasional.
Dalam konteks ini, alam sering disebut sebagai “Ibu Bumi” (Mother Earth) karena memiliki peran yang serupa dengan sosok ibu yang melahirkan, merawat, dan menjaga anak-anaknya. Namun demikian, baik perempuan maupun alam kerap dipandang sebagai entitas pasif yang dapat dikendalikan dan dieksploitasi oleh sistem kapitalisme patriarki.
Baca juga: Monika Maritjie Kailey, Perempuan Adat Penjaga Aru
Dengan kata lain, tubuh perempuan dan tubuh bumi sama-sama menjadi korban dari logika dominasi dan eksploitasi yang lahir dari sistem tersebut.
Kerusakan alam yang ditimbulkan oleh kapitalisme patriarki tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika manusia merasa telah mencapai puncak kecerdasan, ia terdorong untuk menciptakan berbagai bentuk teknologi guna memenuhi kebutuhan dan ambisinya (Harari, 2015).
Dalam pandangan Martin Heidegger melalui tulisannya Die Frage nach der Technik (1954), teknologi tidak sekadar alat, melainkan cara manusia memahami dan memperlakukan dunia. Heidegger menyoroti bahwa teknologi modern sering kali menghadirkan proses yang mengubah sesuatu yang ada menjadi seolah-olah tidak ada.
Dalam konteks ini, ketika teknologi digunakan untuk mengeksploitasi alam, ia berfungsi sebagai sarana yang menghapus keberadaan alami dan mengubahnya menjadi sekadar objek material yang dapat dikuasai. Akibatnya, semakin maju teknologi, semakin jauh jarak eksistensial manusia dari alam, dan semakin besar pula potensi terjadinya kerusakan ekologis.
Laudato Si dan Suara Perempuan
Laudato Si’ merupakan ensiklik yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus sebagai ajakan kepada seluruh umat Kristiani untuk memandang bumi sebagai rumah bersama (common home). Ensiklik ini lahir sebagai tanggapan atas krisis ekologis yang semakin mengancam kehidupan manusia dan seluruh ciptaan.
Salah satu isu penting yang dibahas dalam Laudato Si’ adalah cara berpikir teknokratis yang menempatkan teknologi sebagai pusat dari segala sesuatu. Paradigma ini bahkan mendominasi bidang ekonomi dan politik, dengan kecenderungan menerima setiap kemajuan teknologi demi keuntungan semata tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya bagi manusia (Laudato Si’, art. 109).
Akibat dari cara berpikir tersebut, manusia kini menghadapi berbagai krisis lingkungan seperti polusi udara, tanah longsor, banjir, dan bencana ekologis lainnya. Semua itu tidak terlepas dari pengaruh teknologi dan cara pandang antroposentris yang menganggap manusia sebagai penguasa atas alam.
Namun, dalam situasi krisis ekologis ini, muncul pertanyaan: di manakah suara perempuan? Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bumi kerap diidentikkan dengan sosok perempuan. Laudato Si’ sendiri menampilkan bumi sebagai sosok yang “di-feminin-kan,” yakni sebagai saudari yang harus dihormati dan dicintai.
Baca juga: Perempuan Adat Sumba Menulis Lewat Tenunan
Hal ini tampak jelas dalam artikel 2 yang menyatakan: “Saudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena penggunaan dan penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya.”
Gambaran bumi sebagai “saudari” menunjukkan adanya relasi yang dalam antara perempuan dan alam. Seperti halnya perempuan, bumi sering kali menjadi korban eksploitasi: diperlakukan semena-mena, dipaksa memberi tanpa henti, bahkan “diperkosa” oleh sistem yang menindas dan tidak berkeadilan (Purwaningsih, 2024:8).
Maka, secara simbolik, suara perempuan terwakili dalam jeritan alam yang menuntut keadilan serta mengingatkan manusia agar berhenti merusak bumi.
Redaksi menerima artikel opini dengan panjang cerita minimal 700 kata, dan tidak sedang dikirim ke media lain. Sumber rujukan disebutkan lengkap pada tubuh tulisan. Kirim tulisan ke e-mail redaksibenua@gmail.com disertai dengan foto profil, nomor kontak, dan profil singkat.










Leave a Reply
View Comments