Rhododendron Oranye, Spesies Baru dari Poso

Rhododendron oranye baru dari Poso dinamai "yombuwurii" untuk mengenang Pendeta Yombu Wuri.

Spesies baru Rhododendron berbunga oranye di Pegunungan Tokorondo, Poso. (Foto: Tim Peneliti)
Spesies baru Rhododendron berbunga oranye di Pegunungan Tokorondo, Poso. (Foto: Tim Peneliti)
  • Ilmuwan menemukan spesies baru Rhododendron berbunga oranye di Pegunungan Tokorondo, Poso.
  • Tanaman ini dinamai Rhododendron yombuwurii untuk menghormati Pendeta Yombu Wuri, pejuang lingkungan Danau Poso.
  • Temuan langka ini menegaskan pentingnya perlindungan hutan Sulawesi yang masih menyimpan banyak misteri.

Penemuan spesies baru kembali datang dari hutan Sulawesi. Kali ini, tim peneliti Indonesia melaporkan temuan tumbuhan berbunga oranye cerah dari kawasan Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Spesies itu diberi nama Rhododendron yombuwurii, sebagai penghormatan kepada mendiang Pendeta Yombu Wuri, seorang tokoh agama dan pejuang kelestarian lingkungan di Danau Poso.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Taiwania International Journal of Biodiversity dengan judul “Rhododendron yombuwurii (Ericaceae), a new orange-flowered species of subgenus Vireya from Central Sulawesi, Indonesia” oleh P. W. K. Hutabarat, Zulfadli, K. P. Bandjolu, Basrul, M. R. Hariri, A. Senatama dan S. H. Larekeng.

Dalam publikasi tersebut, para peneliti menyajikan deskripsi morfologi terperinci, pengamatan mikroskopis komparatif, catatan mengenai distribusi, habitat, dan ekologi, serta penilaian konservasi awal. Analisis filogenetik berdasarkan wilayah ITS nuklir mendukung penempatan spesies ini dalam subgenus Vireya dan pembedaan dari takson yang secara morfologi serupa.

Spesies ini sebelumnya berasal dari bahan koleksi yang diambil di Pegunungan Tokorondo, sebelah barat laut Danau Poso, dan saat ini dibudidayakan di ketinggian yang lebih rendah dekat Air Terjun Saluopa, tempat ia tumbuh secara epifit dan menghasilkan bunga-bunga kecil berwarna oranye cerah. Para peneliti menyebut spesies ini merupakan anggota baru subgenus Vireya, kelompok Rhododendron tropis yang banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara.

Adapun nama spesies “yombuwurii” diberikan sebagai penghormatan kepada almarhum Pendeta Yombu Wuri, seorang aktivis, tokoh agama dan budaya terkemuka dari Suku Pamona, yang dikenal karena perjuangannya dalam melawan pengrusakan lingkungan dan kampanyenya pada upaya pelestarian keanekaragaman hayati, kebudayaan dan perdamaian di Poso.

Pendeta Yombu Wuri wafat pada 20 Mei 2024. Hingga akhir hayat Pendeta Yombu Wuri kerap membawa isu perdamaian, lingkungan, keanekaragaman hayati dan kebudayaan Suku Pamona pada khotbah, lagu ciptaannya dan kritiknya terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada alam dan masyarakat lokal.

“Dengan harapan yang pasti, jejak perjuangan almarhum Pendeta Yombu Wuri dapat abadi melalui nama spesies tumbuhan ini,” tulis peneliti.

Penemuan ini merupakan hasil kolaborasi riset Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Perkumpulan Konservasi Membumi, Lentera Matia Ndano, Universitas Lampung dan Universitas Hasanuddin.

Penemuan spesies baru ini bermula dari penelitian lapangan yang dilakukan pada Juni 2023 di sekitar Tentena, Sulawesi Tengah. Salah satu peneliti, K. P. Bandjolu, mengungkapkan bahwa timnya saat itu menemukan tanaman hidup dari genus Rhododendron yang tidak menyerupai spesies mana pun di Sulawesi yang telah dideskripsikan sebelumnya.

A: batang berbunga; B: perbungaan setengah tegak; C: tunas bunga; D: daun bagian atas; E: tangkai daun bersisik; F: daun bagian bawah bersisik; G: sisik daun bawah; H: mahkota corong sempit; I: lobus mahkota dan posisi benang sari; J: mahkota bagian dalam; K: benang sari dan putik; L: benang sari; M: putik; N: buah belum matang; O: ovarium bersisik longgar (difoto oleh Zulfadli).
A: batang berbunga; B: perbungaan setengah tegak; C: tunas bunga; D: daun bagian atas; E: tangkai daun bersisik; F: daun bagian bawah bersisik; G: sisik daun bawah; H: mahkota corong sempit; I: lobus mahkota dan posisi benang sari; J: mahkota bagian dalam; K: benang sari dan putik; L: benang sari; M: putik; N: buah belum matang; O: ovarium bersisik longgar (difoto oleh Zulfadli).

Tanaman tersebut tumbuh pada substrat anggrek epifit dan ditemukan telah dibudidayakan di area yang sangat terganggu di sekitar Air Terjun Saluopa, salah satu objek wisata populer. Kawasan ini merupakan hutan primer yang telah mengalami modifikasi akibat aktivitas pariwisata. Di lokasi tersebut, tanaman asli dari hutan sekitarnya terkadang dikumpulkan dan dipajang secara informal untuk diperjualbelikan.

“Pada saat penemuan awal, tidak mungkin untuk menyiapkan spesimen herbarium,” kata K. P. Bandjolu.

Pada Februari 2024, K. P. Bandjolu kembali menemukan tanaman hidup tersebut dan memperoleh informasi dari penjual anggrek bahwa seluruh substrat, termasuk Rhododendron, awalnya jatuh dari pohon besar di Petirorano, yang merupakan bagian dari Pegunungan Tokorondo di sebelah barat Tentena dan Danau Poso, pada ketinggian sekitar 1.000–1.800 mdpl.

Menariknya, kata K. P. Bandjolu, tanaman tersebut berhasil bertahan hidup setelah dipindahkan ke ketinggian yang lebih rendah di Air Terjun Saluopa (560 m). Spesimen yang sedang berbunga kemudian dikumpulkan dan diolah sebagai spesimen herbarium pada bulan Juli dan November 2024.

“Spesimen yang diperiksa berasal dari Sulawesi Tengah, Kabupaten Poso, Kecamatan Pamona Puselemba, Tentena, Air Terjun Saluopa, 560 m, ditanam di kebun pribadi dari bahan yang dikumpulkan di alam liar,” ungkap K. P. Bandjolu.

Spesimen ini ditanam di hutan pegunungan bawah yang terganggu, berasal dari bahan yang dikumpulkan di alam liar. Voucher dikoleksi pada 23 November 2024 oleh Prima W.K. Hutabarat, Kurniawan P. Bandjolu, Basrul, Fandra Budianto, dan Forrest A.N. Hutabarat.

Hasil diagnosis menunjukkan bahwa Rhododendron yombuwurii memiliki kekerabatan terdekat dengan R. celebicum (Blume) DC., serta menunjukkan kemiripan morfologis dengan R. impressopunctatum J.J.Sm. dan R. vidalii subsp. brachystemon Argent.

Spesies ini berbeda dari R. celebicum (Blume) DC. karena memiliki urat tengah dan urat samping yang menonjol (vs. sedikit cekung), perbungaan yang setengah tegak hingga horizontal (vs. menggantung), kelopak yang tidak berbulu di bagian luar (vs. bersisik rapat), serta mahkota berwarna oranye yang jauh lebih kecil, yaitu 17–22 × 12–16 mm (vs. 35–46 × 20–25 mm, berwarna merah muda hingga merah).

Dibandingkan dengan R. impressopunctatum J.J.Sm., spesies ini memiliki daun yang lebih kecil, jumlah bunga dalam malai yang lebih sedikit, mahkota oranye yang lebih kecil, serta filamen yang terkumpul di mulut mahkota, bukan menonjol keluar.

Spesies ini juga berbeda dari R. vidalii subsp. brachystemon Argent. dalam hal ranting muda yang bersisik lalu menjadi hampir gundul, daun yang lebih panjang dengan urat yang menonjol, kelopak yang gundul di bagian luar, mahkota oranye yang lebih kecil, serta ovarium yang bersisik jarang hingga hampir gundul.

Gambar A. *Rhododendron yombuwurii* yang tumbuh subur dan berbunga sebagai epifit di bawah kanopi pohon kecil di Tentena, Sulawesi Tengah; B. bahan segar dari spesimen tipe PWH1635; C. tunas bunga *Rhododendron yombuwurii* (foto oleh P.W.K. Hutabarat).
Gambar A. *Rhododendron yombuwurii* yang tumbuh subur dan berbunga sebagai epifit di bawah kanopi pohon kecil di Tentena, Sulawesi Tengah; B. bahan segar dari spesimen tipe PWH1635; C. tunas bunga *Rhododendron yombuwurii* (foto oleh P.W.K. Hutabarat).

Peneliti menyebut, studi morfologi terperinci, disertai perbandingan dengan bahan herbarium yang tersedia dan uraian monografis terkait, menegaskan bahwa takson ini merupakan spesies yang belum dideskripsikan. Untuk mengevaluasi lebih lanjut status taksonominya dan menilai kemungkinan asal-usul hibrida, dilakukan pula analisis molekuler.

Pemeriksaan morfologi dan pencitraan dilakukan menggunakan mikroskop stereoskopik serta mikroskop elektron pemindai dengan sinar ion terfokus (FIB) dua sinar, Aquilos 2, di BRIN, Cibinong. Pengamatan ini digunakan untuk mendokumentasikan karakter diagnostik dan membandingkan spesies baru dengan takson terkait secara morfologi.

“Spesimen herbarium yang ditetapkan sebagai tipe diperiksa dan dibandingkan dengan deskripsi serta ilustrasi dalam monografi terkait, sekaligus dengan spesimen fisik takson terkait yang tersimpan di Herbarium Bogoriense (BO), khususnya Rhododendron celebicum, R. impressopunctatum, dan spesies lain dari Sulawesi maupun Kepulauan Maluku,” tulis Peneliti.

Selain itu, spesimen herbarium digital dari R. celebicum, R. impressopunctatum, dan R. vidalii subsp. brachystemon juga diperiksa melalui portal Global Biodiversity Information Facility (GBIF), mencakup materi dari Royal Botanic Gardens, Kew (K), Royal Botanic Garden Edinburgh (E), Naturalis Biodiversity Center (L), Muséum national d’Histoire naturelle (P), dan Harvard University Herbaria (A).

Namun, penilaian konservasi sementara IUCN masih berstatus Data Deficient (DD), yang berarti informasi yang tersedia belum memadai untuk menilai risiko kepunahan secara langsung maupun tidak langsung.

“Spesies ini diketahui hanya berdasarkan satu penemuan di dekat hutan primer Air Terjun Saluopa, Desa Wera, Kabupaten Poso. Lokasi penemuan tidak dapat dipetakan secara pasti, dan populasi spesies ini belum pernah diamati langsung di lapangan,” kata K. P. Bandjolu.

Sebenarnya, kata K. P. Bandjolu, survei lapangan telah dilakukan di Petirorano dan sekitarnya pada beberapa kesempatan sejak 2020, namun survei tersebut bersifat terbatas, sebagian besar hanya mencakup area dekat jalan dan jalur yang dapat diakses. Ia bilanbg. eksplorasi sistematis ke bagian dalam hutan belum dilakukan.

“Wilayah ini masih belum sepenuhnya dieksplorasi secara botani, sehingga individu atau populasi tambahan mungkin dapat ditemukan melalui penelitian lapangan yang lebih luas,” ujarnya.

Adapun hasil analisis Maximum Likelihood terhadap kumpulan data ITS menunjukkan pohon filogenetik yang jelas untuk subgenus Vireya dalam genus Rhododendron. Topologi pohon menunjukkan dukungan bootstrap yang umumnya berkisar dari sedang hingga kuat untuk klad-klad utama, dan secara keseluruhan sejalan dengan hipotesis filogenetik yang telah dipublikasikan sebelumnya untuk kelompok ini.

K. P. Bandjolu bilang, tumbuhan ini secara alami berbunga dua kali setahun, yaitu pada bulan Juni–Juli dan November, serta berbuah pada bulan Januari dan Agustus. Spesies ini hanya diketahui berasal dari wilayah Pegunungan Tokorondo, Sulawesi Tengah.

Spesies baru Rhododendron berbunga oranye di Pegunungan Tokorondo, Poso. (Foto: Tim Peneliti)
Spesies baru Rhododendron berbunga oranye di Pegunungan Tokorondo, Poso. (Foto: Tim Peneliti)

Di lokasi saat ini dekat Air Terjun Saluopa, kata dia, spesies ini tumbuh sebagai epifit di hutan pegunungan bawah yang terganggu pada ketinggian sekitar 560 mdpl, dalam kondisi teduh dan lembap, sering ditemukan bersama anggrek, pakis, dan lumut.

“Namun, ini merupakan individu yang ditanam, dan habitat budidaya saat ini mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekologi alami spesies tersebut,” jelasnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pengumpul lokal, spesies ini diduga berasal dari hutan pegunungan di kawasan Petirorano di Pegunungan Tokorondo, pada ketinggian sekitar 1000–1800MDPL, sekitar 19 km sebelah barat Air Terjun Saluopa.

“Oleh karena distribusinya yang terbatas, perlu dilakukan upaya konservasi ex-situ terhadap spesies ini. Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, akademisi dan masyarakat diharapkan dapat membuat spesies ini lestari di alam,” ujarnya.

Para peneliti menyepakati dan memutuskan untuk mengabadikan nama almarhum Pendeta Yombu Wuri sebagai nama spesies baru dari genus Rhododendron dari Poso, Sulawesi Tengah. Penamaan ini sebagai penghormatan atas perjuangan almarhum terhadap perdamaian, dan kelestarian keanekaragaman hayati serta kebudayaan di Danau Poso selama hidupnya.

Para peneliti juga menyampaikan terima kasih kepada Program Rumah 2024 dari BRIN serta Program Ekspedisi Keanekaragaman Hayati RIIM, yang didukung oleh LPDP, atas dukungan mereka terhadap kegiatan pengumpulan spesimen di lapangan maupun analisisnya.

Tak hanya itu, Para peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, Kementerian Kehutanan, atas izin pengumpulan spesimen, serta kepada pemerintah daerah Kabupaten Poso, Kecamatan Pamona Puselemba, atas izin eksplorasi wilayah dataran tinggi antara Tentena dan Bada.

Bukan hanya itu, mereka juga berterima kasih kepada Asosiasi Internasional untuk Taksonomi Tumbuhan (IAPT) atas pendanaan eksplorasi botani melalui Hibah Penelitian IAPT 2023 yang diberikan kepada PWKH, yang mendukung perolehan spesimen hidup.

Apresiasi khusus mereka sampaikan juga kepada Laboratorium Mikroskopi Elektron Kriogenik (Cryo–EM), Direktorat Jenderal Penelitian dan Infrastruktur Inovasi – BRIN, atas penyediaan citra SEM menggunakan Dual–Beam FIB Aquilos2, serta kepada Herbarium Bogoriense (BO), Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah – BRIN, atas akses ke bahan herbarium.

“Terakhir, kami mengucapkan terima kasih yang tulus kepada teman-teman lokal kami, Fandra Budianto, Nenek Liesbeth Nyolonyolo, Evan Gogani, dan Raynton Rare’a, atas dukungan dan keramahan yang tak ternilai selama kegiatan lapangan di Sulawesi,” tulis mereka.

 


Referensi:

  • Hutabarat P. W. K., Zulfadli, Bandjolu, K.P., Basrul, Hariri, M. R., Senatama, A., & Larekeng, S. H., 2026. Rhododendron yombuwurii (Ericaceae), a new orange-flowered species of subgenus Vireya from Central Sulawesi, Indonesia. Taiwania 71(2): ‒ , 2026 DOI: 10.6165/tai.2026.71.

Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.