B+Sungai dalam Kepungan Sampah

Seorang petugas membersihkan sampah yang menumpuk di kawasan Batujajar, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. Foto : Donny Iqbal/Mongabay Indonesia
Seorang petugas membersihkan sampah yang menumpuk di kawasan Batujajar, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. Foto : Donny Iqbal/Mongabay Indonesia
  • Sungai yang kotor bukan lahir dari satu hari kelalaian, tetapi dari kebiasaan yang terus dibiarkan menjadi budaya.
  • Ketika sampah memenuhi aliran sungai, yang sebenarnya sedang tenggelam bukan hanya lingkungan, melainkan juga kesehatan, ekonomi, dan masa depan generasi berikutnya.
  • Menyelamatkan sungai berarti menyelamatkan kehidupan, dan perubahan itu selalu dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan hari ini.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, sungai perlahan direduksi menjadi saluran pembuangan tidak resmi oleh masyarakat. Sampah rumah tangga—plastik, sisa makanan, botol minuman, popok sekali pakai, hingga limbah organik—dilempar begitu saja ke aliran air seolah sungai mampu menelan semuanya tanpa konsekuensi.

Kebiasaan ini telah mengakar sebagai perilaku sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Padahal, sungai bukan tempat sampah. Ia adalah urat nadi ekologi, sumber air baku, pengatur iklim mikro, serta ruang hidup bagi berbagai makhluk yang menopang keberlanjutan manusia sendiri.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Mahasiswa Prodi Biologi di Universitas Pamulang Serang. Ia juga aktif bekerja sebagai buruh pabrik di PT Dolphin. dan memiliki hobi menggambar yang sudah ditekuni sejak kecil.