Di penghujung tahun 2025 ditutup dengan berita yang kurang menyenangkan dari para pendaki. 3 orang Pendaki illegal memasuki areal pendakian di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) yang sudah ditutup sejak Tahun 2018. 2 diantara nya selamat, sementara 1 orang dinyatakan meninggal dunia. Dari banyaknya berita yang beredar, 3 orang pendaki ini naik melalui pintu pendakian Jalur Kalitalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
TNGM merupakan kawasan konservasi yang memiliki nilai keanekaragaman hayati, ekosistem dan keindahan alam yang tinggi serta pada kawasan ini terdapat salah satu gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Merapi. Sebelum Tahun 2018, TNGM mempunyai 2 jalur pendakian yaitu Selo (Boyolali) dan Sapuangin (Kemalang, Klaten). Namun, sejak peningkatan status Gunung Merapi dari Aktif Normal menjadi Waspada pada Mei tahun 2018 berdampak pada pembatasan aktivitas khususnya wisata alam di jalur pendakian Gunung Merapi.
Hingga saat ini (Desember 2025) jalur pendakian ke puncak ditutup total dikarenakan status aktivitas Gunung Merapi yang masih Siaga (Level III) dan sering mengeluarkan guguran awan panas, sehingga demi keselamatan pengunjung untuk pendakian maka jalur pendakian ditutup. TNGM merupakan kawasan konservasi yang berada pada 2 Provinsi yaitu Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dan mencakup 4 Kabupaten yaitu Sleman, Magelang, Klaten dan Boyolali. Hal ini menjadikan TNGM menjadi salah satu destinasi wisata bagi khalayak umum, khususnya para peminat pendakian.
Mendaki gunung merupakan salah satu kegiatan yang diminati banyak anak muda bahkan jumlah pendaki gunung tiap tahun semakin meningkat dikarenakan banyaknya trend anak muda yang merasa paling kece jika sudah naik menaklukan gunung. Bahkan dikutip di salah satu jurnal penelitian (Yusuf et all, 2025) “naik gunung bukan hanya sebagai sarana rekreasi tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup dan pencitraan diri di ruang digital”. Hal ini menjadi menarik, karena segmentasi perubahan makna pendakian berubah signifikan.
Kalau kita telusuri arti dari pendakian yaitu kombinasi fisik, eksplorasi alam, dan diperlukan persiapan fisik untuk mencapai tujuan. Persiapan ini penting agar keselamatan para pendaki dan proses pendakian menjadi lancar. Hal ini diperkuat dengan penelitian Afifah (2022) bahwa dalam kegiatan pendakian merupakan kegiatan yang mempekuat hubungan spiritual antara manusia dan lingkungannya, serta mengandung nilai filosifis (perjuangan, keseimbangan dan ketahanan diri di alam). Perlu persiapan dan Latihan yang cukup sebelum akan mendaki gunung, seperti: pengecekan kondisi fisik, pengecekan Lokasi (cuaca, izin pendakian, dan jalur pendakian), dan etika pendakian.
Kemudian, kenapa masih ada pendaki yang masuk dalam kawasan taman nasional, tanpa izin pendakian, jika sudah ada tata tertib/aturan yang mengharuskan untuk selalu cek beberapa point sebelum mendaki. Perubahan terjadi karena adanya perkembangan zaman namun seiring perkembangan yang terjadi, selaku pendaki masih harus tetap memegang identitas dan makna dari pendakian gunung itu sendiri.
Bahkan saat kita berada dia alam bebas, kita saja pun tidak boleh memperlihatkan kesombongan bahwa kita mampu menaklukan alam. Pada saat kita berada di alam, kita cukup perlu menghargai alam tersebut. Salah satu bentuk menghargai alam yaitu dengan mengetahui kondisinya saat ini dan merupakan bentuk self-responsibility kita kepada alam dan diri kita sendiri. Dalam hal ini pendaki cukup tahu bagaimana gunung yang akan didaki.
Dalam konteks pendakian ini, mungkin tidak hanya terjadi di Gunung Merapi tapi di beberapa Taman Nasional di Indonesia yang mempunyai jalur pendakian. Masih banyaknya pendaki illegal yang naik ke gunung tanpa ijin. Sehingga alangkah bijaknya kita, jika sebelum mendaki untuk selalu mengecek kondisi gunung yang akan didaki, jalur yang akan dilewati, serta persiapan fisik sebelum pendakian. Semua Taman Nasional di Indonesia mempunyai website yang mensosialisasikan terkait kawasannya atau bahkan pemasangan spanduk dan papan informasi yang terkait penutupan jalur pendakian dan bisa dijadikan informasi sebelum mendaki.
Mendaki bukan hanya sekedar ikut-ikutan trend telah menaklukan gunung atau ajang ekplorasi identitas, namun lebih kepada bagaimana kita mengenal, memahami serta menghargai alam. Bukankah Gunung mengajarkan kita untuk selalu menghargai setiap Langkah, nafas dan keindahan yang ada di sekitar kita serta mengajarkan rasa Syukur atas pencapaian setelahnya.
Sebelum tahun baru 2026 yang biasanya identik dengan pendakian gunung untuk merayakan pergantian tahun baru. Yuk, sebelum mendaki gunung dicek dulu semua yang termasuk situasi dan kondisi gunung yang akan didaki. Naik gunung bukan sekedar mengejar validasi tapi lebih kepada hubungan kita dengan sang pencipta. Semoga semakin bijak dalam mendaki gunung.
Literature
- Rezkia Yusuf, Hasnawi Haris, Andti Octamaya Tenri Awaru (2025), Tren Mendaki Gunung sebagai Gaya Hidup Mahasiswa Gen Z Universitas Negeri Makassar, Jurnal Cendekia Ilmiah.
- Afifah, S. (2019). Flow Experience Pada Muslimah Pendaki Gunung. Jurnal Psikologi Islam, 5(2), 119–132
Redaksi menerima artikel opini dengan panjang cerita minimal 700 kata, dan tidak sedang dikirim ke media lain. Sumber rujukan disebutkan lengkap pada tubuh tulisan. Kirim tulisan ke e-mail redaksibenua@gmail.com disertai dengan foto profil, nomor kontak, dan profil singkat.









Leave a Reply
View Comments