- Persoalan lahan antara warga penambang rakyat dan perusahaan tambang emas, PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS), berujung rusuh, September lalu. Anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) itu sudah menguasai lahan-lahan yang sejak dulu dikelola warga penambang.
- Sekitar Februari, satgas mulai pendataan dan pendukumentasian lahan-lahan kaplingan masyarakat yang akan masuk program itu. Awal Agustus lalu, pendataan dan pendokumentasian lahan pun selesai, sekitar 2.135 berkas, dengan jumlah titik lokasi sama.
- Sayangnya, alih-alih mendapatkan ganti rugi sesuai, lahan-lahan masyarakat penambang ternyata ada yang dihargai hanya Rp2,5 juta setiap berkas. Kondisi ini, memicu kemarahan masyarakat hingga mereka demo September lalu, yang mengakibatkan peristiwa pembakaran.
- Demonstrasi warga penambang di Pohuwato bukan kali ini terjadi. Dua dekade terakhir ini, warga penambang berulang kali unjuk rasa ke Pemerintah Pohuwato, selaku pemegang kekuasaan wilayah di ujung barat Gorontalo itu.
Kantor Bupati Pohuwato, Gorontalo menjadi korban saat ribuan masyarakat penambang emas yang mengatasnamakan Forum Ahli Waris Penambang Pohuwato melakukan demonstrasi pada Kamis 21 September lalu. Rumah Dinas Bupati, Kantor DPRD, hingga fasilitas milik perusahan pun ikut jadi korban.
Aksi tersebut buntut dari proses ganti rugi lahan yang lambat diberikan perusahaan tambang emas PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS), terlebih harga yang diberikan dinilai tak layak. Pasalnya, anak perusahaan dari PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sudah menguasai lahan warga penambang yang sejak dulu dikelola oleh warga sekitar.
Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran
DANA
gopay
OVO
ShopeePay
QRIS
Dan lainnya












Leave a Reply
View Comments