Perubahan Iklim Berdampak Buruk pada Spesies yang Bermigrasi

ilustrasi salah satu satwa yang sering bermigrasi. (Sumber foto: Canva AI)
ilustrasi salah satu satwa yang sering bermigrasi. (Sumber foto: Canva AI)
  • Peningkatan suhu global telah mempengaruhi sebagian besar kelompok spesies yang bermigrasi.
  • Perubahan iklim berdampak pada distribusi spesies yang bermigrasi dan waktu migrasi.
  • Perubahan ketersediaan air kemungkinan besar akan berdampak pada migrasi ikan dan burung air.
  • Burung laut dan mamalia laut yang bermigrasi akan terdampak oleh perubahan arus laut

***

Perubahan iklim telah memberikan dampak yang sangat buruk bagi banyak hewan yang bermigrasi dan kemampuan mereka untuk menyediakan layanan ekosistem yang vital bagi umat manusia, menurut laporan baru dari Konvensi Konservasi Spesies Hewan Liar yang Bermigrasi (CMS), sebuah perjanjian keanekaragaman hayati PBB.

Dirilis pada Konferensi Perubahan Iklim PBB di Dubai (UNFCCC COP28), laporan ini menemukan bahwa dampak langsung dari perubahan iklim terhadap banyak spesies yang bermigrasi telah terlihat, termasuk pergeseran wilayah jelajah, perubahan waktu migrasi, dan berkurangnya keberhasilan perkembangbiakan dan kelangsungan hidup.

Sebagai bagian integral dari ekosistem tempat mereka tinggal, spesies migran mendukung jasa ekosistem penting yang memitigasi dampak perubahan iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap bahaya iklim.

Studi ini juga menekankan perlunya segera bertindak untuk membantu spesies migrasi yang rentan beradaptasi dengan perubahan iklim. Tindakan seperti pembentukan jaringan kawasan lindung yang komprehensif dan terhubung dengan baik.

Juga dibutuhkan langkah-langkah konservasi berbasis kawasan yang efektif sangat penting untuk mendukung pergerakan spesies dalam menanggapi perubahan iklim. Sementara intervensi langsung dari manusia, seperti translokasi populasi spesies yang rentan, akan diperlukan dalam beberapa kasus.

Dalam laporan itu menjelaskan, terdapat bukti kuat bahwa peningkatan suhu global telah mempengaruhi sebagian besar kelompok spesies yang bermigrasi, dan dampaknya sebagian besar bersifat negatif.

Sebagai contoh, peningkatan suhu menyebabkan perubahan dalam reproduksi dan kelangsungan hidup krill dan berdampak negatif pada mamalia laut dan burung laut yang mengandalkan krill sebagai sumber makanan utama.

Tak hanya itu, terdapat juga bukti kuat bahwa perubahan iklim berdampak pada distribusi spesies yang bermigrasi dan waktu migrasi. Secara khusus, peningkatan suhu mendorong pergeseran wilayah jelajah dan migrasi serta perkembangbiakan yang lebih awal.

Pada beberapa spesies, seperti burung yang menyeberang, terdapat risiko bahwa hal ini akan menyebabkan ketidaksesuaian antara waktu berkembang biak dan waktu ketika spesies mangsa paling banyak.

Bukan hanya itu, perubahan ketersediaan air menyebabkan hilangnya lahan basah dan berkurangnya aliran sungai, yang kemungkinan besar akan berdampak pada migrasi ikan dan burung air.

Peristiwa ekstrem terkait iklim seperti tanah longsor juga menyebabkan kerusakan habitat yang parah. Hal itu telah terjadi di beberapa lokasi penangkaran burung laut.

Berikutnya, laporan itu juga menemukan terdapat bukti kuat bahwa burung laut dan mamalia laut yang bermigrasi akan terdampak oleh perubahan arus laut. Hal itu disinyalir akan mengubah sifat dan fungsi banyak ekosistem laut dan darat.

Rt Hon Steve Barclay, Sekretaris Negara untuk Lingkungan Hidup, Pangan, dan Urusan Pedesaan Britania Raya dan Irlandia Utara mengatakan, tantangan yang dihadapi spesies yang bermigrasi ini sebagai akibat dari perubahan iklim.

Menurut Rt Hon Steve Barclay, harus ada demonstrasi yang kuat tentang perlunya tindakan global yang terkoordinasi untuk melindungi lingkungan kita semua. Katanya, alam menopang struktur kehidupan, ekosistem, ketahanan pangan dan air yang menjadi tumpuan semua mahluk hidup.

“Itulah sebabnya mengapa Inggris mengambil peran utama dalam upaya memulihkan alam, menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati, dan mencapai target kami untuk melindungi 30% daratan dan lautan pada tahun 2030,” kata Rt Hon Steve Barclay

Diketahui, keanekaragaman hayati memang menurun secara global dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan perubahan iklim adalah salah satu pendorong utama krisis ini.

Pada tahun 2021, para ilmuwan keanekaragaman hayati dan iklim terkemuka di dunia bersama-sama membunyikan alarm, menyatakan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim saling memperkuat satu sama lain dan keduanya tidak akan berhasil diatasi kecuali jika keduanya ditangani bersama.

Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal yang diadopsi tahun lalu mengakui bahwa solusi berbasis alam sangat penting dalam memerangi perubahan iklim dalam Target 8. Konservasi spesies yang bermigrasi dan habitatnya merupakan bagian penting dari solusi untuk keanekaragaman hayati dan krisis perubahan iklim.

Amy Fraenkel, Sekretaris Eksekutif CMS mengatakan, spesies yang bermigrasi sangat selaras dengan ritme planet kita. Mereka bergantung pada keseimbangan yang rumit, melakukan perjalanan jarak jauh untuk mencapai habitat yang secara khusus cocok untuk kelangsungan hidup dan reproduksi mereka.

Namun, katanya, perubahan iklim sangat mengganggu jalur kritis ini, mengubah ekosistem dan mempengaruhi ketersediaan sumber daya. Gangguan ini menjadi tanda bahaya yang sangat penting, menyoroti implikasi yang lebih luas dari perubahan iklim, tidak hanya bagi spesies-spesies ini, tetapi juga bagi jaringan kehidupan yang saling terhubung di Bumi.

“Laporan ini menggarisbawahi perlunya tindakan global yang segera dan terpadu untuk mengurangi dampak-dampak ini dan melindungi masa depan spesies yang bermigrasi.” Kata Amy Fraenkel

Spesies yang bermigrasi penting bagi fungsi ekosistem dan mitigasi perubahan iklim, terutama ketika mereka membentuk bagian yang signifikan dari suatu ekosistem atau berkumpul dalam jumlah besar pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Banyak spesies yang bermigrasi terkait dengan pergerakan dan penyebaran benih dan nutrisi.

Spesies besar yang bermigrasi dapat berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim melalui penguraian kotoran mereka, yang mengunci karbon ke dalam tanah atau dasar laut, serta melalui proses yang lebih kompleks, seperti menjaga jaring trofik yang melindungi hutan atau padang lamun yang penting untuk penyerapan karbon.

Spesies yang bermigrasi juga dapat berkontribusi terhadap adaptasi perubahan iklim dengan meningkatkan ketahanan ekosistem; misalnya, guano burung laut meningkatkan nutrisi yang tersedia untuk pertumbuhan terumbu karang, yang pada gilirannya mengurangi erosi pantai.

Dampak perubahan iklim terhadap spesies yang bermigrasi menggarisbawahi perlunya negara-negara untuk bekerja sama dalam tindakan untuk memastikan konservasi mereka. CMS menyediakan sarana untuk kerja sama semacam itu, menangani spesies yang bermigrasi di seluruh wilayah jelajahnya.

Dengan melestarikan spesies yang bermigrasi dan habitatnya di bawah CMS, negara-negara juga dapat mencapai solusi yang saling menguntungkan dan secara langsung berkontribusi terhadap tujuan dan target Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal dan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim.

“Laporan ini memaparkan bukti ilmiah yang kuat bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak yang signifikan terhadap banyak spesies di seluruh dunia yang bergantung pada migrasi untuk kelangsungan hidupnya. Waktu terus berdetak untuk masa depan banyak spesies ikonik,” Profesor Colin Galbraith, Mantan Ketua JNCC dan Anggota Dewan yang Ditunjuk oleh CMS COP untuk Perubahan Iklim

Menurut Profesor Colin Galbraith, perlu ada peningkatan kesadaran global, serta pemerintah bisa menggunakan laporan ini untuk mengambil tindakan, mencari solusi berbasis alam yang akan membantu spesies yang bermigrasi dan dapat mengurangi dampak perubahan iklim.

Untuk diketahui, peluncuran laporan utama ini dilakukan sebelum pertemuan ke-14 Konferensi Para Pihak CMS, di Samarkand, Uzbekistan pada tanggal 12-17 Februari 2024. Pertemuan ini akan menjadi salah satu pertemuan keanekaragaman hayati global yang paling penting sejak diadopsinya Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal.

Pertemuan itu juga membahas prioritas konservasi yang sangat penting, termasuk tindakan prioritas untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya terhadap spesies yang bermigrasi dan habitatnya.

 

Sumber: CMS