Pemanasan Bumi sudah menyentuh 2°C pada November. Apa yang sedang terjadi?

Ilustrasi jalan yang sangat panas. (Sumber foto: Canva AI)
Ilustrasi jalan yang sangat panas. (Sumber foto: Canva AI)

Penulis: Andrew King, The University of Melbourne


Pada September, pemanasan suhu Bumi melampaui 1,5°C. Dua bulan kemudian, pemanasan Bumi naik lagi hingga sempat menyentuh 2°C. Wajar jika kita bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

Apa yang kita lihat bukanlah perubahan iklim yang tidak terkendali. Ini adalah lonjakan suhu harian, bukan pola jangka panjang yang jadi acuan untuk mengatakan bahwa suhu dunia saat ini lebih panas 2°C dibandingkan era praindustri.

Namun, kenaikan suhu pertama yang melewati batas aman Bumi ini adalah alarm terkeras sepanjang sejarah. Kenaikan suhu terjadi seiring dengan peringatan Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) bahwa dunia masih berada di jalur menuju pemanasan 3°C yang “sangat buruk” pada akhir abad ini.

Kendati demikian, kenaikan suhu ini tidak menandai kegagalan kita. Lonjakan pemanasan tiba-tiba tahun 2023 terjadi karena kombinasi beberapa faktor: perubahan iklim, El Nino kuat, kegagalan pembentukan kembali es laut setelah musim dingin, berkurangnya polusi aerosol, dan peningkatan aktivitas matahari. Ada juga faktor kecil seperti dampak letusan gunung berapi di dekat Tonga.

Seberapa signifikan faktor-faktor ini?

1. Perubahan iklim

Sejauh ini, perubahan iklim adalah faktor terbesar. Banyak dari kita yang tidak menyadari betapa barunya periode emisi intens yang kita alami. Jika kamu lahir pada 1983, 50% dari seluruh emisi umat manusia telah dibuang ke atmosfer sejak kelahiranmu. Emisi manusia dan aktivitas lainnya sejauh ini berkontribusi memanaskan suhu Bumi sebesar 1,2°C.

Gas rumah kaca memerangkap panas, itulah sebabnya bumi tidak terselimuti salju. Namun, 2 triliun ton energi fosil yang kita ambil dari bawah tanah dan dikembalikan ke atmosfer memerangkap lebih dan lebih banyak panas. Bumi bakal terus memanas hingga kita berhenti menggunakan bahan bakar fosil untuk menghasilkan panas atau listrik.

2. El Nino

Siklus iklim El Nino di kawasan Pasifik memiliki pengaruh alami terbesar terhadap iklim. Hal ini karena kawasan Pasifik sangat luas, mencakup 30% permukaan bumi.

Saat mengalami fase El Nino, lautan di lepas pantai Amerika Selatan memanas. Hal ini, pada gilirannya, biasanya membuat suhu rata-rata global menjadi lebih panas.

Saat ini, ada gelombang panas yang berbahaya di Brasil. Saat terkombinasi dengan kelembapan, gelombang panas membuat suhu di sana terasa seperti 60°C. Kondisi tersebut berkontribusi pada kematian seorang penggemar di konser Taylor Swift di Rio de Janeiro minggu lalu.

El Nino kemungkinan akan memuncak dalam dua bulan ke depan. Namun, dampaknya mungkin terus berlanjut sepanjang 2024, sehingga menyebabkan suhu rata-rata global lebih tinggi sekitar 0,15°C.

3. Es Laut Antartika gagal pulih

Penurunan es Laut Arktik sudah diketahui secara luas. Namun, kini es Laut Antartika juga gagal pulih. Biasanya, lingkaran air laut beku di sekitar benua es mencapai batas maksimumnya pada September. Namun, luas lingkaran maksimum tahun ini jauh di bawah tahun sebelumnya.

Saat memasuki musim panas, akan lebih banyak air yang berwarna gelap. Permukaan yang gelap akan menyerap lebih banyak panas, sedangkan permukaan yang putih memantulkannya. Ini menandakan lebih banyak panas yang akan masuk ke lautan dibandingkan kembali ke angkasa.

4. Peningkatan aktivitas Matahari

Matahari beroperasi dalam siklus sekitar 11 tahun, dengan keluaran yang lebih rendah dan lebih tinggi. Suhu maksimum matahari diperkirakan terjadi pada 2025 dan peningkatan nyata terjadi tahun ini. Fenomena tersebut menciptakan aurora yang spektakuler—-bahkan di Belahan Bumi Selatan, tempat penduduknya telah melihat aurora sampai ke daratan Ballarat, di Victoria, Australia.

Aktivitas maksimum matahari menambahkan panas ekstra. Namun, efeknya tidak banyak—-hanya sekitar 0,05°C, atau setara sepertiga dari El Nino.

5. Letusan gunung berapi

Letusan gunung berapi biasanya mendinginkan planet ini karena gumpalan besar aerosol dari muntahan gunung menghalangi sinar matahari.

Namun letusan gunung berapi terbesar abad ini, di dekat Tonga, Polinesia, pada Januari 2022 justru berdampak sebaliknya. Ini karena gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha’apai berada di bawah laut. Kekuatan ledakannya menguapkan sejumlah besar air laut. Sementara, uap air merupakan gas rumah kaca.

Beberapa orang skeptis bahwa letusan di Tonga menjadi penyebab utama lonjakan pemanasan global baru-baru ini, menganggapnya hanya kedipan semata. Namun, letusan ini akan menambah suhu diperkirakan 0,035°C selama sekitar lima tahun.

6. Berkurangnya polusi aerosol

Pada 2020, peraturan internasional baru mewajibkan bahan bakar pelayaran yang rendah sulfur. Pelaksanaan regulasi ini mengurangi emisi sulfur dioksida sekitar 10%.

Rendahnya emisi sulfur dioksida memang bagus untuk kesehatan. Namun, aerosol di atmosfer sebenarnya dapat menghalangi panas.

Pengurangan polusi mungkin telah menambah pemanasan Bumi. Namun sekali lagi, dampaknya tampaknya kecil, atau menambahkan perkiraan pemanasan sebesar 0,05°C pada 2050.

Apa hikmah dari pemanasan ini?

Iklim sangat kompleks. Kita patut melihat kenaikan suhu 2°C ini sebagai peringatan keras, bukan sebagai tanda untuk menyerah.

Singkatnya, ini bukanlah perubahan tiba-tiba. Kombinasi beberapa faktorlah yang mendorong lonjakan ini. Beberapa di antaranya, seperti El Nino, merupakan siklus alami sehingga keadaan dapat berubah kembali.

Namun, ketika para delegasi bersiap untuk perundingan iklim COP28 pekan depan, ini merupakan tanda lain bahwa kita tidak bisa menyerah.

Kita-–akhirnya—-melihat tanda-tanda kemajuan nyata dalam penerapan energi terbarukan dan transportasi ramah lingkungan. Tahun ini, kita bahkan mungkin melihat emisi dari pembangkit listrik akhirnya mencapai puncaknya dan kemudian mulai jatuh.

Kita belum gagal. Namun, kita berada di planet yang memanas dengan cepat. Kita kini dapat melihat dampaknya dengan jelas, bahkan dalam catatan suhu harian terbaru ini.


Andrew King, Senior Lecturer in Climate Science, The University of Melbourne

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.