Menanti Dakwah Keagamaan NU Dalam Pelestarian Lingkungan

Sampah Plastik (Sumber foto: Pixabay)

Saat ini orang dianggap saleh atau salehah kalau sudah rajin shalat berjama’ah di masjid, puasa senin-kamis, atau menggunakan atribut-atribut yang bernuansa agamis. Upaya melestarikan lingkungan, belum dianggap bagian dari perintah agama. 

Oleh karena itu, persolaan yang lebih fundamental yang harus disampaikan kepada masayakarat adalah menumbuhkan kesadaran kepada mereka bahwa urusan agama tidak sekedar masalah ibadah ubudiyah.

Dakwah Lingkungan Penting Dilakukan Para Dai

Dakwahkan dan khotbahkan bahwa mencintai kebersihan, mengantri, menanam pohon, dan menjaga lingkungan sesungguhnya adalah ajaran agama yang harus dilaksanakan. Para Dai punya peran sangat jitu dalam mengkampanyekan isu ini. Bukankah masalah lingkungan juga penting?

Misalnya saja, dakwah yang perlu digalakkan saat ini terkait bahaya sampah plastik yang mengancam kehidupan umat. Dimana plastik telah menjadi media yang sangat praktis untuk kehidupan sehari-hari sulit dibendung penggunaannya. 

Faktor penyebab kerusakan lingkungan hidup menjadi “PR” besar bagi kita, termasuk kebiasaan membuang sampah sembarang tempat. Apalagi sampah tersebut berbasis plastik, akan berbahaya dan sulit dikelola. 

Plastik sifatnya ringan dan kuat itu, menjadi pilihan yang tepat digunakan justeru mengancam keberlangsungan kehidupan umat di dunia. Bahkan Bahan kimia tambahan yang ada dalam plastik juga dapat menyebabkan gangguan reproduksi.

Selain itu sampah plastik juga berbahaya bagi kesehatan dan keseimbangan lingkungan. Sampah plastik membutuhkan puluhan hingga ratusan tahun untuk bisa terurai secara alami.

WHO menerbitkan penelitian yang mengejutkan pada tahun 2018, di mana mereka mengungkap keberadaan mikroplastik dalam 90% air kemasan, yang tesnya menunjukkan hanya 17 yang bebas dari plastik dari 259 sampel.

Indonesia Negeri Penyumbang Sampah Plastik Terbesar di Dunia

Indonesia negeri yang luas dan jumlah penduduknya sangat besar ini menjadi primadona sampah plastik. Berdasarkan riset yang dilakukan Universitas Georgia pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai ladang sampah plastik terbanyak di dunia, kisaranya sebanyak 5,4 juta ton pertahun. 

Sampah plastik menumpuk tidak hanya berpotensi menjadi markas penyakit di daratan, bahkan telah merusak ekosistem laut. Bahkan bahan kimianya meresap ke tanah dan berinteraksi dengan air, kualitas air akan ikut tercemar. Tanah akan terkontaminasi bahan kimia sehingga air tanah juga rentan mengandung racun berbahaya.

Bahaya Sampah dan Respon Cepat NU di Munas Alim Ulama

Hasil rekomendasi munas alim ulama dan konferensi besar NU yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat pada pekan lalu perlu diapresiasi. Pada munas kali itu NU mampu melihat masalah kekinian untuk dijadikan dasar dalam merumuskan persoalan yang kian komplek di masyarakat. Misalnya masalah sampah plastik yang mengancam kehidupan manusia dan alam.

NU menilai bahwa ternyata sampah plastik kian banyak itu disebabkan oleh industri dan rendahnya budaya masyarakat akibat resiko yang timbul. Pada rekomendasi itu, NU mendorong warganya untuk memasukan elemen budaya, sehingga terbangun cara pandang dan perilaku masyarakat terhadap pentingnya untuk menghindari diri akan bahaya sampah plastik.

Dalam hasil rekomendasi tersebut, pemerintah didesak melakukan upaya pengendalian laju pencemaran limbah plastik di Indonesia. Mengingat Indonesia telah menjadi negara penghasil sampah plastik terbanyak di dunia, sekitar 130 ribu ton sampah plastik yang dihasilkan setiap hari. Hal ini perlu menjadi perhatian yang serius, termasuk stakeholder di berbagai daerah.

Intensitas sampah plastik memang sulit dibendung, namun sangat mungkin untuk dikurangi jumlah penggunaannya terutama dengan mengubah tradisi sederhana di luar maupun dalam rumah. Pemerintah ditantang untuk dapat menekan laju penggunaan sampah plastik. Diharapkan agar dapat memberikan solusi atas kedaruratan sampah plastik. 

Misalnya menggandeng pegiat-pegiat lingkungan dan para ahli untuk mencarikan solusi pengganti plastik. Sebab, pengelolaan dan penanganan plastik itu sangat sulit dilakukan.

Bahaya Sampah Plastik Bagi Lingkungan dan Manusia

Menurut Direktur Bank Sampah Nusantara (BSN) Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI-NU) Fitri Aryani seperti dilansir dari NU Online, sampah plastik punya banyak dampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan. 

Telah ada hasil penelitian akibat sampah plastic. Dimana dalam hasil tersebut menyebutkan bahwa sampah plastik dapat menyebabkan kanker yang disebabkan oleh polusi udara yang dihasilkan.

Selain itu, kata Fitri, untuk mengurangi sampah plastic, membakarnya bukan solusi yang tepat. Sebab polusi dari pembakaran sampah plastik tersebut hasilnya akan berefek kemana-mana. 

“Ketika kita membakar plastik, CO2 (karbon dioksida) terlepas. Kalau terhirup manusia, sama dengan menghirup gas-gas dari knalpot motor. Kalau dibakar itu plastik baunya sangit kan. Itu sebenarnya pelepasan CO2 ke udara,” katanya dikutip dari NU Online.

Hasil pembakaran dari sampah plastic menimbulkan pelbagai penyakit baru yang tak bisa diketahui masyarakat. Dilansir dari carahealt.com, plastik mengandung PVC (polyvinyl chloride) yang juga terkandung dalam botol plastik, kemasan plastik dan kemasan blister (pembungkus obat) bila dibakar, akan mengeluarkan zat berbahaya.

Gas beracun yang dikeluarkan oleh pembakaran bahan plastic, yang dapat dihirup, tidak hanya menyebabkan kanker, tapi juga impotensi, asma dan segudang alergi lain pada manusia.

Menurut survei yang ada, jumlah sperma di Inggris dan Wales sangat rendah dibandingkan dengan generasi sebelumnya, dimana hal tersebut disebabkan oleh intensitas kanker testis sebesar 55 persen di antara tahun 1979 dan 1991. 

Selain itu, ada juga fakta yang menarik, bahwa anak laki-laki yang lahir di Seveso, Italia, yang disinyalir karena racun dioxin yang dihasilkan dari sampah plastik. Kemudian fakta lain, ada beberapa anak perempuan mencapai pubertas lebih awal dari yang lain karena menghirup bahan plastik yang dibakar.

Ibadah Bukan Hanya Soal Ubudiyah

NU tidak ketinggalan dalam merespon masalah terkini wabil khusus masalah sampah plastik. Kondisi sampah plastik dinilai NU, sudah pada tahap darurat. Hasil pemaparan NU pada munas beberapa waktu lalu mengungkap, bahwa Indonesia juga masuk rekor negara yang turut menyumbang sampah plastik di laut. Dan hal ini belum dibantah oleh siapa pun, termasuk pemerintah.

Dimana juga diketahui, Pemerintah saat ini telah menetapkan aturan kantong plastik berbayar jika membeli di toko – toko modern. Namun hal ini perlu dilihat sejauhmana kepatuhan para pengusaha toko dalam pemberlakuan ini. Kesadaran terhadap bahaya sampah plastik perlu digalakkan semua stakeholder.

Kelompok keagamaan seperti NU punya peran penting untuk memberikan kesadaran kepada jamaahnya tentang pentingnya menjaga lingkungan. Tantangan mendakwahkan cinta lingkungan juga tak mudah. Sebab masih banyak orang menganggap urusan agama masih sebatas urusan-urusan ibadah ubudiyah, seperti sholat, puasa, zakat dan haji. 

Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di masyarakat terkait masalah agama masih berkutat pada isu-isu tersebut.

Djemi Radji* Penulis adalah Pemerhati Lingkungan di Gorontalo, dan merupakan Direktur NUlondalo Multimedia Group.