Lagi, emisi CO2 energi fosil cetak rekor tertinggi tahun ini

Gambar Cerobong asap, Perlindungan lingkungan, Pembangkit listrik tenaga batu bara. (Sumber foto: Pixabay)
Gambar Cerobong asap, Perlindungan lingkungan, Pembangkit listrik tenaga batu bara. (Sumber foto: Pixabay)

Emisi karbon dioksida (CO2) global dari bahan bakar fosil terus meningkat dengan angka kenaikan pada 2023 sebesar 1,1%. Emisi tersebut mencetak rekor, dengan torehannya sebesar 36,8 miliar ton.

Angka ini adalah temuan dari laporan tahunan bujet karbon ke-18 dari Global Carbon Project yang kami rilis 5 Desember lalu.

Emisi fosil CO2 berasal dari pembakaran dan penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak, dan gas bumi) serta produksi semen. Jika ditambahkan dengan angka pelepasan dan penyerapan emisi CO2 dari aspek alih fungsi lahan, seperti deforestasi dan reforestasi, kami menaksir aktivitas manusia akan mengeluarkan 40,9 miliar ton CO2 tahun ini.

Vegetasi dunia beserta laut memang terus menyerap sekitar separuh dari CO2 yang terlepas dari permukaan Bumi. Sisanya akan terperangkap di atmosfer kemudian meningkatkan pemanasan planet kita.

Dengan level emisi saat ini, dan dengan 50% kemungkinan, bujet karbon yang untuk membatasi suhu global 1,5°C akan habis dalam tujuh tahun, dan 15 tahun lagi akan mencapai 1,7°C. Inilah yang menyebabkan kebutuhan pemangkasan emisi saat ini menjadi amat darurat.

Emisi dari sumber energi fosil terus naik

Emisi CO2 dari sumber energi fosil saat ini mencapai 90% total emisi CO2 dari aktivitas manusia. Setiap sumber fosil mengalami kenaikan emisi dibanding tahun lalu:

  • batu bara (41% dari emisi CO2 global) naik 1,1%
  • minyak bumi (32%) naik 1,5%
  • gas bumi (21%) naik 0,5%
  • semen (4%) naik 0,8%.

Line graph showing emissions from fossil fuels, land-use changes and total emissions from 1960 to 2023
Seluruh bahan bakar fosil mendong kenaikan emisi CO2. Global Carbon Budget 2023/Global Carbon Project, CC BY

Meskipun emisi global naik, gambaran setiap negara berbeda-beda. Ada beberapa yang menunjukkan kemajuannya dalam dekarbonisasi atau proses pengurangan emisi karbon.

Emisi dari Cina (31% dari total emisi global) naik 4% dengan peningkatan di seluruh sumber fosil. Pertumbuhan tertinggi berasal dari emisi minyak bumi. Kenaikan ini sebagian berasal dari pemulihan sektor transportasi yang sempat tiarap akibat pandemi COVID-19.

Di Amerika Serikat (14% dari total emisi global), emisi justru turun 3%. Usaha pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mereka adalah penyebab terbesar pengurangan emisi. Emisi dari batu bara di AS mencapai titik terendah sejak 1903.

Sementara itu, emisi India (8% dari total emisi global) naik 8,2%. Emisi dari seluruh sumber fosil naik setidaknya 5% atau lebih, dengan kenaikan terbesar berasal dari batu bara (9,5%). India saat ini menjadi penyumbang emisi CO2 fosil terbesar ketiga di dunia.

Emisi dari Uni Eropa (7% dari total emisi global) turun 7,4%. Penurunan ini disumbang oleh cepatnya penetrasi energi terbarukan dan dampak pasokan energi akibat perang di Ukraina.

Di Indonesia, total emisi fosil CO2 melesat sebesar 18% pada 2022. Angka ini merupakan yang tertinggi selama 60 tahun terakhir. Cepatnya pertumbuhan sebagian terjadi karena usaha Indonesia memulihkan ekonomi pascapandemi. Sementara, sebagian lainnya adalah karena pertumbuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru sehingga emisi CO2 dari batu bara naik pesat sebesar 33%.

Selama dekade 2013-2022, ada penurunan emisi fosil CO2 di 26 negara dan perekonomian mereka tetap bertumbuh. Beberapa di antaranya adalah Brasil, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Portugal, Rumania, Afrika Selatan, Inggris, dan AS.

Emissions by individual countries from 1960 to 2023
Tren emisi fosil CO2 amat beragam. Ada beberapa yang mengalami kemajuan dalam proses dekarbonisasi. Global Carbon Budget 2023/Global Carbon Project, CC BY

Emisi CO2 nyaris mencapai puncak

Saat emisi CO2 dari sumber fosil terus naik, emisi bersih dari aspek alih fungsi lahan seperti deforestasi (sumber emisi CO2) dikurangi penyerapan emisi dari reforestasi tampak berkurang. Walau begitu, perkiraan emisi dari alih fungsi lahan secara keseluruhan masih belum pasti dan kurang akurat dibandingkan emisi bahan bakar fosil.

Perkiraan awal kami menunjukkan emisi bersih dari alih fungsi lahan mencapai 4,1 miliar ton CO2 pada 2023. Emisi ini mengalami penurunan kecil tapi relatif tidak pasti selama dua dekade terakhir.

Tren penurunan terjadi karena berkurangnya deforestasi dan kenaikan tipis reforestasi. Penyumbang terbesarnya adalah Brasil, Indonesia, dan Republik Demokratik Kongo. Tiga negara ini menyumbang 55% dari emisi bersih CO2 global dari alih fungsi lahan.

Saat kami menggabungkan emisi CO2 dari aktivitas manusia (fosil dan penggunaan lahan), kami menemukan tren total emisi yang sangat kecil selama dekade terakhir. Jika hal ini benar, maka emisi CO₂ global dari aktivitas manusia tidak akan bertambah lagi, tapi tetap berada pada tingkat rekor yang sangat tinggi.

Emisi CO2 yang stabil dengan angka 41 miliar ton per tahun akan mempercepat akumulasi CO2 di atmosfer dan pemanasan iklim. Sementara, untuk menstabilkan iklim, emisi CO2 dari aktivitas manusia harus mencapai ke titik nol atau net zero. Artinya, setiap CO2 yang terlepaskan harus ditebus dengan penyerapan CO2.

Alam sangat menolong, dengan sedikit kontribusi manusia

Vegetasi di daratan dan lautan menyerap separuh dari total emisi CO2. Porsi ini, ajaibnya, tetap stabil selama enam dekade belakangan.

Selain penyerapan CO2 secara alami, manusia juga menyerap CO2 dari atmosfer dengan usaha mereka sendiri. Kami memperkirakan reforestasi permanen ataupun aforestasi (penanaman di luar hutan) selama satu dekade terakhir membantu penyerapan 1,9 miliar ton CO2 per tahun.

Angka tersebut setara 5% dari emisi bahan bakar fosil per tahun.

Sementara itu, kontribusi dari upaya penyerapan CO2 non-vegetasi lainnya masih kecil. angka nya sekitar 0,01 juta ton CO2.

Mesin (penangkapan dan penyimpanan karbon langsung dari atmosfer) berhasil menarik 0,007 juta ton CO2. Proyek pelapukan batuan yang ditingkatkan (enhanced weathering project), untuk mempercepat proses pelapukan alami agar meningkatkan serapan CO₂ dengan menyebarkan mineral tertentu, menyumbang 0,004 juta ton lainnya. Jumlah ini sejuta kali lebih kecil dibandingkan emisi bahan bakar fosil saat ini.

Bujet karbon tersisa

Sejak Januari 2024, bujet karbon tersisa untuk membatasi pemanasan global 1,5°C (dengan 50% kemungkinan) sudah berkurang ke 275 miliar CO2. Bujet ini kemungkinan akan habis terpakai dalam tujuh tahun jika kita merujuk pada tingkat emisi 2023.

Bujet karbon untuk membatasi pemanasan 1,7°C juga berkurang ke 625 miliar ton CO2, alias setara 15 tahun lagi jika kita mengacu ke tren emisi saat ini. Bujet agar suhu Bumi di bawah 2°C adalah 1.150 miliar ton CO2–atau 28 tahun lagi.

Pencapaian net zero pada 2050 membutuhkan pengurangan emisi CO2 dari aktivitas manusia ke rata-rata 1,5 miliar ton CO2 per tahun. Angka ini hampir setara dengan berkurangnya emisi 2020 akibat berbagai pembatasan saat pandemi (di bawah 2 miliar ton CO2).

Tanpa tambahan emisi negatif dari penyerapan CO2, penurunan emisi secara langsung mulai saat ini hingga 2050 (saat banyak negara berambisi mencapai net zero CO2 ataupun gas rumah kaca lainnya) akan tetap membuat suhu permukaan rata-rata global menghangat sebesar 1,7°C, melampaui batas 1,5°C.

Produksi energi terbarukan kini mencapai rekor tertinggi dan berkembang pesat. Karena itu, untuk membatasi perubahan fosil dan penggunaan lahan akibat perubahan iklim, emisi CO₂ harus dikurangi lebih cepat supaya pada akhirnya kita bisa mencapai kondisi nol emisi.

Pep Canadell, Chief Research Scientist, CSIRO Environment; Executive Director, Global Carbon Project, CSIRO; Corinne Le Quéré, Royal Society Research Professor of Climate Change Science, University of East Anglia; Glen Peters, Senior Researcher, Center for International Climate and Environment Research – Oslo; Judith Hauck, Helmholtz Young Investigator group leader and deputy head, Marine Biogeosciences section a Alfred Wegener Institute, Universität Bremen; Julia Pongratz, Professor of Physical Geography and Land Use Systems, Department of Geography, Ludwig Maximilian University of Munich; Philippe Ciais, Directeur de recherche au Laboratoire des science du climat et de l’environnement, Institut Pierre-Simon Laplace, Commissariat à l’énergie atomique et aux énergies alternatives (CEA); Pierre Friedlingstein, Chair, Mathematical Modelling of Climate, University of Exeter; Robbie Andrew, Senior Researcher, Center for International Climate and Environment Research – Oslo, dan Rob Jackson, Professor, Department of Earth System Science, and Chair of the Global Carbon Project, Stanford University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.