Krisis Iklim Makin Memburuk, Pendanaan Bank untuk Batu Bara Harus Dihentikan

Aksi Fossil Free BNI pada hari Minggu, 27 Februari 2022. (Foto: Istimewa)

Jeri Asmoro, dari Indonesia Digital Campaigner 350.Org saat ini krisis iklim telah membahayakan kehidupan bumi dan seluruh penghuninya. Ilmuwan yang tergabung dalam IPCC juga menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia harus segera bertindak untuk dapat meredam dampak krisis iklim agar tidak semakin memburuk keadaan,

Ia menyebutkan pihak yang berperan besar untuk menghentikan krisis iklim in adalah sektor perbankan. Pasalnya, perbankan masih menjadi pihak yang menyebabkan berbagai bencana iklim terus terjadi ketika masih mendanai proyek energi fosil.

“Kita semua mempertanyakan peran mereka, apakah mereka bagian dari solusi dengan melakukan praktik keuangan berkelanjutan yang sejati?,” katanya

Saat ini ada empat bank di Indonesia yang masih mendanai proyek energi kotor batubara, penyebab krisis iklim. Bank-bank itu adalah BNI, Mandiri, BRI dan BCA. 

Menurut Pius Ginting, Koordinator Perkumpulan AEER, pinjaman bank dalam negeri terhadap industri batubara masih lebih tinggi, yakni sebanyak Rp 89 triliun dalam periode 2018 – 2020 dibanding pinjaman ke energi terbarukan sebanyak 21,5 triliun. 

“Pinjaman terhadap industri batubara memang harus dihentikan dari sekarang,” tegasnya.

Aksi Fossil Free BNI pada hari Minggu, 27 Februari 2022. (Foto: Istimewa)

 

Menurut Interim Indonesia Team Leader 350, Firdaus Cahyadi, peran mereka dalam mendanai krisis iklim melalui pendanaan ke energi kotor batubara sangat mengecewakan. 

“Kebijakan mereka mendanai batu bara sangat mengecewakan kita semua, termasuk nasabah-nasabah keempat bank itu, “ujar Firdaus Cahyadi, 

“BNI misalnya beberapa kali mengklaim mendukung upaya pengurangan gas rumah kaca, penyebab krisis iklim, namun ternyata masih mendanai batu bara. Ini sungguh mengecewakan,” sambungnya

Keterlibatan masyarakat, termasuk masyarakat adat, juga diperlukan dalam mengatasi krisis iklim. Dalam laporan IPCC yang berkaitan dengan dampak, adaptasi, dan kerentanan ini ditekankan pentingnya peran masyarakat adat dan masyarakat lokal.

“Karena mereka memiliki pengetahuan tentang dunia, tentang alam,“ ujar Brigitta Isworo Laksmi, jurnalis lingkungan senior, “Penting untuk melibatkan mereka karena mereka yang tahu cara mengatasi krisis iklim.”

Menurutnya, Indonesia memiliki demikian banyak masyarakat adat mestinya bisa mengambil langkah strategis dengan melibatkan mereka dalam merencanakan pembangunan untuk ketahanan iklim atau climate resilient development.