- Wilayah pesisir seperti Bali Utara dan Pangkajene Kepulauan menunjukkan bahwa krisis iklim telah nyata dirasakan masyarakat melalui perubahan suhu, kualitas udara, dan air yang berdampak langsung pada kesehatan.
- Peningkatan panas ekstrem, intrusi air laut, serta memburuknya kualitas lingkungan berkorelasi dengan tingginya kasus ISPA, diare, dan penyakit kulit di layanan kesehatan primer.
- Fenomena ini menegaskan bahwa krisis iklim telah berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih dulu terbaca oleh tubuh masyarakat sebelum tercermin dalam statistik resmi.
- Karena itu, diperlukan integrasi data iklim dan kesehatan, penguatan adaptasi berbasis pencegahan, serta pengakuan terhadap pengalaman warga pesisir sebagai bagian penting dari sistem peringatan dini.
Wilayah pesisir dan pulau-pulau terluar menjadi tempat krisis iklim untuk memperlihatkan wajah paling jujurnya. Jauh sebelum istilah krisis iklim ramai dibahas di ruang kebijakan, masyarakat di garis pinggir Indonesia sudah lebih dulu merasakan perubahan.
Air yang tak lagi sepenuhnya tawar, panas yang kian melelahkan, dan penyakit yang datang lebih sering dari biasanya. Tubuh mereka bekerja sebagai sensor lingkungan, merekam perubahan kecil yang terus berulang. Panas kini tidak sekadar cuaca, tetapi menjelma rasa lelah yang menetap. Demam muncul di luar pola yang dikenal.
Banyak wilayah pesisir mengalami perubahan itu lebih cepat daripada tercatat dalam grafik atau laporan ilmiah. Tubuh manusia lebih dulu memberi sinyal bahwa relasi antara iklim dan kehidupan sehari-hari sedang bergeser.
Pengalaman tersebut saya temui berulang kali selama melakukan berbagai survei lingkungan dan Kesehatan puluhan desa pesisir Bali Utara, Pangkajene Kepulauan, hingga pulau-pulau kecil perbatasan. Lokasinya berbeda, tetapi keluhannya serupa tubuh masyarakat berubah mengikuti iklim yang tak lagi sama.
Ketika Panas yang Tak Lagi Sekadar Terik di Bali Utara

Wilayah pesisir utara Bali, terutama Kabupaten Buleleng, semakin jelas menunjukkan dirinya sebagai ruang rentan dalam lanskap krisis iklim dan Kesehatan. Catatan BMKG menunjukkan bahwa Indonesia mencatat tren peningkatan suhu yang terus berlanjut dalam beberapa dekade terakhir
Perubahan pola suhu ini terutama terasa pada siang hari. Prakiraan cuaca perairan utara Bali pada Januari 2026 masih memperlihatkan suhu udara di kisaran 27–28 °C, dengan kelembapan tinggi yang membuat panas terasa lebih berat bagi tubuh yang bekerja di luar ruangan.
Kondisi tersebut tercermin jelas dalam ritme kerja nelayan. Aktivitas melaut tidak lagi berlangsung sepanjang hari seperti sebelumnya. Waktu kerja menyempit, bukan semata karena kondisi laut, tetapi karena tubuh lebih cepat kehilangan stamina.
Paparan matahari langsung selama berjam-jam, permukaan laut yang memantulkan panas, serta angin yang semakin tidak menentu menciptakan beban termal berlapis. Tubuh dipaksa bekerja dalam suhu tinggi tanpa cukup ruang untuk pulih.
Temuan lapangan menunjukkan pola ini bukan fenomena sesaat. Keluhan tentang lelah luar biasa, pusing, dan nafas pendek muncul seiring hari-hari dengan suhu tinggi yang berkepanjangan kini semakin sering dilaporkan oleh masyarakat pesisir.
Perubahan suhu yang teramati BMKG bukan hanya selisih angka hal ini memengaruhi cara tubuh bereaksi terhadap lingkungan. Ketika suhu maksimum harian meningkat jauh di atas suhu rata-rata, mekanisme fisiologis tubuh harus bekerja lebih keras untuk mendinginkan diri, sehingga energi cepat terkuras dan ketahanan menurun.
Ketika panas ekstrem menjadi baseline baru cuaca, tubuh manusia lebih dulu “berbicara” melalui tanda-tanda kelelahan dan sakit sebelum angka statistik menjadi peringatan resmi.
Pangkajene Kepulauan, Krisis yang Mengalir Lewat Udara dan Air

Jika Bali Utara memperlihatkan panas sebagai tekanan utama pada tubuh, wilayah lain menunjukkan wajah krisis yang lebih berlapis. Perubahan iklim bekerja tidak hanya lewat udara yang dihirup, tetapi juga melalui air yang digunakan setiap hari. Jejak perubahan itu kemudian terasa jelas di pesisir Pangkajene Kepulauan.
Data layanan kesehatan di wilayah Pangkajene dan Kepulauan menunjukkan pola penyakit yang kuat terkait perubahan lingkungan. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara konsisten menempati peringkat teratas dalam daftar 10 penyakit terbanyak Puskesmas, terutama di wilayah kepulauan dan pesisir.
Pada beberapa Puskesmas pesisir, ISPA menyumbang lebih dari seperempat kunjungan pasien rawat jalan, dengan peningkatan kasus yang terlihat jelas selama periode pancaroba yang semakin panjang dan sulit diprediksi.
Masalah tidak berhenti pada udara. Diare secara konsisten masuk dalam 5 besar penyakit terbanyak di Puskesmas pesisir Pangkep, terutama setelah musim kemarau panjang. Bersamaan dengan itu, iritasi kulit menjadi keluhan yang kerap tercatat, menandakan persoalan kualitas air yang digunakan sehari-hari.
Wilayah kepulauan Pangkep menghadapi kerentanan tinggi terhadap intrusi air laut, yang menyebabkan sumber air tanah menjadi payau dan tidak stabil kualitasnya.
Hasil pemeriksaan kualitas air di wilayah pesisir menunjukkan peningkatan salinitas dan kandungan bakteri indikator seperti koliform, terutama pada sumur dangkal yang menjadi sumber utama air rumah tangga.
Kondisi ini sejalan dengan pola penyakit berbasis air yang muncul di layanan kesehatan primer. Diare dan gangguan kulit tidak berdiri sendiri, melainkan bergerak mengikuti perubahan kualitas air yang semakin sulit dikendalikan.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa krisis iklim di Pangkajene dan Kepulauan bekerja melalui dua jalur utama yakni udara yang memperberat kerja paru-paru dan air yang menggerus kesehatan pencernaan serta kulit.
Perubahan iklim tidak menyerang melalui satu pintu, melainkan lewat lingkungan hidup yang menjadi penopang kesehatan sehari-hari. Udara dan air, dua elemen paling mendasar, menjadi medium pertama yang berubah ketika suhu meningkat, musim bergeser, dan laut naik perlahan.
Pada jalur udara, peningkatan suhu, kelembapan tinggi, serta perubahan arah angin menciptakan kondisi yang memperberat kerja sistem pernapasan. ISPA yang konsisten masuk dalam daftar penyakit terbanyak Puskesmas pesisir menandai bahwa udara tidak lagi netral bagi tubuh.
Panjangnya musim pancaroba memperpanjang periode risiko, membuat gangguan pernapasan hadir bukan sebagai lonjakan sesaat, tetapi sebagai pola yang menetap. Tubuh, terutama pada anak-anak dan lansia, dipaksa beradaptasi lebih cepat daripada kemampuan lingkungan untuk kembali stabil.
Jalur kedua bekerja lebih senyap melalui air. Kenaikan muka air laut dan kemarau panjang mempercepat intrusi air asin ke sumber air tanah, menurunkan kualitas air yang digunakan sehari-hari. Peningkatan salinitas dan bakteri indikator seperti koliform berkorelasi dengan tingginya kasus diare dan penyakit kulit di wilayah pesisir.
Penyakit-penyakit ini menjadi penanda bahwa perubahan iklim telah merusak batas antara air layak dan tidak layak, memindahkan risiko kesehatan langsung ke dapur dan kamar mandi Masyarakat pesisir.
Kedua jalur ini saling memperkuat. Tubuh yang terpapar panas dan udara lembap mengalami penurunan daya tahan, sementara akses air bersih yang terganggu meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.
Akibatnya, beban penyakit tidak hanya bertambah, tetapi juga menjadi lebih kompleks. Sistem kesehatan primer kemudian sibuk merespons secara kuratif, sementara akar masalahnya terus berulang bersama perubahan iklim yang tidak tertangani.
Kesimpulan dari temuan ini jelas bahwa krisis iklim di wilayah pesisir telah menjelma menjadi krisis kesehatan yang nyata. ISPA, diare, dan penyakit kulit bukan sekadar statistik Puskesmas, melainkan sinyal bahwa udara dan air dua fondasi kesehatan sedang berubah.
Selama adaptasi iklim masih dipisahkan dari kebijakan kesehatan masyarakat, tubuh warga pesisir akan terus menjadi pihak pertama yang membayar dampaknya.
Menurut saya, cara pandang ini perlu diubah karena menunjukkan bahwa krisis iklim telah berlangsung sebagai krisis kesehatan, terutama di wilayah pesisir dan pulau-pulau terluar.
Sistem kesehatan yang tidak terhubung dengan data iklim akan selalu tertinggal, seperti puskesmas yang sibuk mengobati, tetapi minim ruang untuk pencegahan berbasis suhu, cuaca, dan kualitas lingkungan.
Langkah paling mendesak adalah mengintegrasikan data iklim dan data penyakit di layanan primer, serta memosisikan wilayah pesisir sebagai zona peringatan dini. Edukasi, penguatan akses air bersih, dan perlindungan kelompok rentan harus menjadi bagian utama strategi adaptasi iklim, bukan sekadar pelengkap.
Lebih dari itu, pengalaman tubuh masyarakat perlu diakui sebagai data yang sah. Keluhan nelayan, ibu rumah tangga, dan tenaga kesehatan lokal bukan sekadar cerita, melainkan sinyal awal yang kerap muncul jauh sebelum indikator statistik nasional bergerak.
Sumber: Tulisan ini disusun berdasarkan catatan lapangan yang dikumpulkan secara langsung, serta hasil wawancara dengan nelayan, tenaga kesehatan, dan ibu rumah tangga di wilayah pesisir.
Redaksi menerima artikel opini dengan panjang cerita minimal 700 kata, dan tidak sedang dikirim ke media lain. Sumber rujukan disebutkan lengkap pada tubuh tulisan. Kirim tulisan ke e-mail redaksibenua@gmail.com disertai dengan foto profil, nomor kontak, dan profil singkat.









Leave a Reply
View Comments