Kelelawar dan Kebutuhan Pupuk Warga Desa Olibu

Kelelawar yang bemukim di hutan mangrove desa Olibu/foto: Benua.id

Kelelawar yang akhir-akhir ini kerap dikaitkan dengan Virus Corona atau Covid-19, ternyata memiliki banyak manfaat. Kali ini, seorang dosen sekaligus peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Safriyanto Dako menyulap kotoran kelelawar menjadi pupuk organik.

Menurut Ketua Tim Program Pengembangan Desa Mandiri (PPDM) Desa Olibu, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo ini, kotoran kelelawar bisa dijadikan sebagai bahan baku utama pupuk kompos alami yang berfungsi sebagai aktivator pupuk organik padat maupun cair.

“Kebetulan di desa Olibu bermukim jutaan kelelawar, dengan adanya stigma bahwa kelelawar identik dengan virus Covid-19, maka orang-orang pada takut mendekat,” kata Safriyanto.

“Maka dengan begitu saya ciptakan inovasi terbarukan, yakni pembuatan pupuk organik dari kotoran kelelawar,” tuturnya.

Pelestarian Habitat Kelelawar

Habitat kelelawar di desa Olibu/foto: benua.id

 

Menurutnya, selain melawan stigma Covid-19, ia juga melihat permasalahan lain yang dihadapi oleh petani di Desa Olibu yang kurang akan pasokan pupuk. Sebab, mayoritas penduduk desa tersebut adalah petani yang sangat membutuhkan pupuk.

“Penduduk desa sangat sulit mendapatkan pupuk. Selain akses jalan yang cukup jauh, ketersediaan pupuk saat ini sangat terbatas bahkan sulit untuk didapatkan,” tuturnya.

Ia mengaku, jika pupuk yang dihasilkan dari kotoran kelelawar ini pun tak kalah bersaing dengan pupuk pabrikan pada umumnya. Pupuk tersebut mampu memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan tanaman jagung, terutama pada jagung manis.

“Pemberian pupuk organik cair dari kotoran kelelawar ini, mampu mempercepat pertumbuhan tinggi tanaman, umur berbunga dan buah yang maksimal,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, kata Safriyanto, kotoran kelelawar atau biasa disebut guano ini, bisa dijadikan pakan ikan. Secara alami, kelelawar yang hidup di kawasan hutan bakau desa Olibu mampu menghasilkan banyak makanan bagi ikan di laut Teluk Tomini.

“Kebetulan kelelawar di desa Olibu hidup di hutan bakau, maka otomatis banyak ikan di laut yang memakan kotoran kelelawar sebagai satu kesatuan dari rantai makanan,” imbuhnya.

“Nah, kotoran ini juga bisa dibuat pakan ikan peliharaan. Bisa diolah dengan cara dicampur ikan-ikan kecil. Sangat bagus untuk ikan yang dipelihara di keramba laut,” ungkapnya.

Ia berharap, inovasi yang dihasilkan itu akan dimanfaatkan oleh warga Desa Olibu dengan baik. Selain membantu warga desa setempat dalam hal kesulitan pupuk, ia juga berusaha agar kelestarian kelelawar di wilayah itu bisa terjaga.

“Peningkatan pengetahuan kelompok masyarakat dalam pembuatan pupuk, ini juga merupakan salah satu implementasi kegiatan konservasi kelelawar. Minimal dengan adanya inovasi ini, perburuan kelelawar yang kian masif akan sendirinya hilang,” tuturnya.

“Alhamdulillah saya sudah lakukan pelatihan pembuatan pupuk organik cair sederhana dan warga sangat antusias,” ia menandaskan.

Arfandi Ibrahim
Arfandi Ibrahim adalah kontributor jurnalis Lipuatan6.com di Gorontalo. Ia mengawali karir menjadi wartawan Gorontalo Post pada 2015-2018. Pria yang akrab disapa Andi itu juga merupakan editor disalah satu media lokal di Gorontalo.