Hijrah Ipetu, petani plasma sedang melihat kebun sawit yang sudah tidak terawat lagi di Desa Pangeya Idaman, Kecamatan Wonosari, Boalemo, Gorontalo. Dia juga anggota Koperasi Pangeya Idaman. Foto: Sarjan Lahay
Hijrah Ipetu, petani plasma sedang melihat kebun sawit yang sudah tidak terawat lagi di Desa Pangeya Idaman, Kecamatan Wonosari, Boalemo, Gorontalo. Dia juga anggota Koperasi Pangeya Idaman. Foto: Sarjan Lahay

B+Janji-janji Manis Perusahaan Sawit Berbuah Derita Petani Plasma Boalemo


  • Sudah jatuh tertimpa tangga. Tampaknya inilah yang dialami petani plasma di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, ketika bermitra dengan perusahaan sawit
  • Sudahlah bagi hasil kebun sawit dari perusahaan sawit tak sesuai perjanjian, petani pun jadi punya utang puluhan juta di bank. Tiap hektar kebun, petani jadi punya utang sekitar Rp68 juta-Rp77 juta.
  • Petani menilai, PT Agro Artha Surya tidak transparan soal produktivitas sawit. Petani maupun koperasi tak mendapatkan informasi soal berapa panen kebun petani.
  • Dari janji per hektar dapat Rp1 juta lebih, petani plasma ada yang dapat hanya Rp22.000 per hektar. Itu pun bayar tiap tiga bulan sekali.

Perusahaan sawit datang membawa kesusahan hidup warga terjadi di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Janji perusahaan, setelah mau ikut kebun plasma, petani akan dapatkan hasil besar, warga sekitar pun bisa bekerja di perusahaan sawit.

Ternyata, janji tinggal janji. Kenyataan, petani plasma harus menelan pil pahit. Bagi hasil sangat kecil, jauh dari perjanjian, bahkan tanpa sepengetahuan petani, mereka jadi punya utang puluhan juta di bank!

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.