Bagaimana cuaca panas terik memperburuk kesehatan mental

Ilustrasi kekeringan. (Sumber Foto: Pixabay.com)
Ilustrasi kekeringan. (Sumber Foto: Pixabay.com)

Oleh: Siti Aminah, Universitas Negeri Yogyakarta


Komunitas ilmuwan dari Goddard Institute of Space Studies (GISS) NASA merilis laporan pada 14 September 2023 bahwa musim panas tahun ini menjadi yang terpanas di bumi sejak pencatatan global dimulai pada 1880.

Gabungan suhu rata-rata pada Juni, Juli, dan Agustus mencapai 0,23°C lebih hangat dibandingkan dengan musim panas lainnya dalam sejarah. Selain itu, suhu Bumi 1,2 °C lebih hangat dibandingkan dengan rata-rata musim panas antara 1951 dan 1980.

Cuaca panas 2023 memang terjadi di seluruh belahan dunia.

Organisasi Metereologi Dunia (WMO) pada 6 September melaporkan bahwa suhu permukaan laut global yang mencapai tingkat tertinggi selama tiga bulan berturut-turut.

Selain itu, penurunan luasan es laut di Antratika ke tingkat terendah turut menyumbang peningkatan suhu Bumi.

Sejauh ini perubahan iklim bagi tubuh manusia banyak dikaitkan dengan berkurangnya pemenuhan air seperti dehidrasi dan masalah kesehatan fisik lainnya.

Sementara itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tapi juga berdampak signifikan pada kesehatan mental.

Penelitian lainnya pada 2021 menyatakan bahwa negara berpendapatan rendah dan menengah mendapat paparan kesehatan mental yang serius disebabkan oleh perubahan cuaca yang ekstrem.

Sayangnya, aspek ini masih terabaikan, sehingga belum ada penanganan yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi dampak negatif yang muncul.

Pengaruh cuaca panas pada mental

Perubahan cuaca ekstrem memengaruhi aktivitas keseharian seseorang. Dalam kondisi perubahan suhu, individu melakukan berbagai upaya penyesuaian agar dapat bertahan dalam situasi tersebut. Penyesuaian dilakukan pada aspek fisik dan juga psikologis. Kegagalan penyesuaian dapat menimbulkan berbagai masalah.

Beberapa pengaruh dari paparan cuaca panas yang berkepanjangan pada perubahan kognitif misalnya perubahan fungsi otak dan kelelahan mental.

Selain itu, cuaca panas yang terjadi siang dan malam juga memengaruhi kualitas tidur seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa tingginya suhu menimbulkan masalah tidur seseorang dan menyebabkan insomnia.

Dalam aspek perilaku, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa cuaca panas menimbulkan gejolak emosi seseorang sehingga meningkatkan stres dan agresi. Pada beberapa kasus, kesulitan pengelolaan emosi dan perilaku selama melewati masa suhu tinggi dalam jangka panjang dapat memengaruhi intensi seseorang untuk melakukan tindak bunuh diri.

Anak-anak merupakan kelompok yang juga rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti malnutrisi yang disebabkan oleh kelaparan . Cuaca panas juga mengakibatkan ruang belajar menjadi tidak nyaman dan dapat menurunkan performa kognitif anak.

Suhu panas di Indonesia

Sebagai negara tropis yang dilewati oleh garis khatulistiwa, Indonesia menjadi negara yang tidak terhindarkan dari suhu panas yang hampir merata di berbagai daerah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa pada September lalu suhu di sejumlah wilayah Indonesia mencapai 35,4-38 °C.

Salah satu daerah dengan suhu tertinggi adalah Kertajati Jawa Barat dengan suhu mencapai 38,6 °C. Panas terik itu terjadi karena minimnya tingkat pertumbuhan awan sehingga penyinaran matahari pada siang hari menjadi sangat panas.

Selain itu, kecepatan angin, tutupan awan, dan kelembaban udara yang rendah juga berkontribusi pada meningkatnya suhu di Indonesia. Dengan demikian, dampak suhu panas bagi kesehatan mental bagi penduduk Indonesia kemungkinan juga besar.

Efek mental masih kurang dipedulikan

Permasalahan kesehatan mental yang ditimbulkan dari efek cuaca panas belum banyak menjadi perhatian masyarakat.

Kesadaran pentingnya kesehatan mental yang masih rendah mengakibatkan masyarakat cenderung abai pada perubahan-perubahan psikologis yang dialami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, stigma masyarakat tentang layanan kesehatan mental. Masyarakat Indonesia masih memiliki anggapan bahwa seseorang yang memiliki masalah kesehatan mental merupakan aib. Apa yang dialami tidak patut untuk diketahui oleh orang lain termasuk konselor atau terapis.

Kedua, kurangnya kesadaran pentingnya kesehatan mental. Kesehatan mental dianggap sebagai masalah yang akan dengan sendirinya berkurang tanpa melalui bantuan atau metode khusus.

Ketika seseorang mengeluh tentang masalah psikologis yang dialami, respons yang muncul adalah meminta untuk sabar dan lebih dekat dengan kegiatan keagamaan. Meskipun faktanya, permasalahan psikologis dapat dirasakan oleh siapapun dengan latar belakang apapun.

Ketiga, layanan kesehatan mental yang terbatas dan belum inklusif. Ketersediaan layanan kesehatan mental juga memengaruhi seseorang untuk mengunjungi tenaga profesional ketika mengalami permasalahan psikologis.

Khususnya di era digital, pemanfaatan teknologi mestinya mampu mendekatkan layanan kesehatan mental dengan masyarakat dan lebih inklusif.

Menjaga kesehatan mental selama cuaca panas

Selain menjaga kebugaran fisik selama menghadapi cuaca panas, masyarakat juga perlu melakukan berbagai upaya untuk menjaga kesehatan mental. Tetap melakukan aktivitas di dalam ruangan seperti meditasi dan rileksasi menggunakan musik dapat membantu seseorang untuk meredam stres yang disebabkan oleh suhu yang tinggi.

Apabila upaya tersebut tidak menghasilkan perubahan signifikan, kita dapat menggunakan layanan profesional untuk mendapatkan penanganan yang lebih efektif. Pelayanan kesehatan mental di Puskesmas atau unit layanan lain dapat digunakan sebagai alternatif untuk memperoleh penanganan yang tepat.

Dalam proses meningkatkan resiliensi selama menghadapi gelombang cuaca panas, peran komunitas untuk saling memberikan dukungan dan pendampingan sesama anggota sangat penting. Bagaimana komunitas merespon suatu peristiwa dapat memengaruhi seluruh anggota di dalamnya.

Komunitas yang mampu memberikan penguatan positif untuk mampu bertahan pada situasi sulit, seperti cuaca panas, dapat membantu meningkatkan kemampuan seseorang menyesuaikan diri.

Peran komunitas terkecil seperti keluarga, karang taruna, pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK), dan komunitas-komunitas lainnya dapat dimaksimalkan untuk mengelola kesehatan mental individu di masyarakat.

Petugas kesehatan dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak pada bidang kesehatan mental dapat bersinergi dengan komunitas untuk dapat menyelenggarakan program penguatan kesehatan mental. Sehingga masyarakat dapat lebih tangguh dan adaptif selama fase cuaca panas yang panjang.

Walau musim hujan diperkirakan mulai datang bulan ini, ke depan panas terik akan makin sering terjadi akibat dari perubahan iklim.The Conversation

 


Siti Aminah, Lecturer at Department of Educational Psychology and Guidance, Faculty of Education and Psychology, Universitas Negeri Yogyakarta

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.