648 Desa di Gorontalo Masih Berak Sembarangan, Memicu Problem Kesehatan Dunia

Ilustrasi berak sembarangan (Foto: Benua Indonesia)

Masih ada 648 desa yang ada di Gorontalo masih Buang Air Besar (BAB) sembarangan. Tapi ini bukan kabar buruk. Laporan itu menyorot bahwa Gorontalo setidaknya termasuk daerah berprestasi yang mengalokasikan 10 persen untuk pengurangan Desa Buang Air Besar sembarangan.

Seperti dikutip dari 60dtk.com, Pengalokasikan 10 persen untuk pengurangan Desa Buang Air Besar sembarangan itu dilakukan melalui Program Kebaikan Kesehatan Lingkungan (KKL) SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Gorontalo.

Dari 731 Desa yang ada di Provinsi Gorontalo, baru 83 Desa telah bebas dari Buang Air Besar (BAB) sembarangan. dan tinggal 648 yang masih terdapat masyarakatnya BAB sembarangan.

“Capaian target kita memang sudah tercapai. Dari 731 Desa sudah ada 83 Desa yang sudah bebas buang air besar sembarangan,” ujar Kesmas PP dan KB Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, dr. Rosina Kiu, saat memaparkan program Kesehatan Masyarakat di Kantor Dikes Provinsi Gorontalo, Kamis (12/11/2020) kemarin.

Program KKL memang bertujuan untuk mengurangi permasalahan lingkungan termaksud eeh sembarangan.  Pemerintah provinsi Gorontalo ngotot untuk memaksimalkan program tersebut.

“Kita saya berharap jangan buang air besar di sembarangan tempat. Program KKL ini harus bisa diikuti oleh semua desa yang ada di Gorontalo,” ujarnya

Permasalah Berak sembarangan ini kerap menjadi masalah klasik untuk Indonesia. Di kutip dari Vice Indonesia, pada tahun 2017, total rumah tangga di Indonesia sebanyak 79,61 juta, 9 persen yang berak sembarangan.

Presentase dari 9 persen berarti ada 7,16 juta rumah tangga Indonesia yang berak di tempat selain kakus. Duh, lumayan banyak skly gays.

Malah, Menurut Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI Imran Agus Nurali saat itu, mengatakan Indonesia menempati urutan kedua penyumbang buang air besar sembarangan terbanyak di dunia deteksi India loh. Ini prestasi atau tidak yaaa?

Coba dibayangkan, jika kita mengalahkan India terkait eeh itu, akan jadi apa nanti? Hehehe.

Sebelumnya, UNICEF membuat program sanitasi yang masuk dalam Sustainable Development Goals PBB. Misi PBB, per 2030 atau sepuluh tahun lagi, seluruh dunia harus tak ada lagi yang eek sembarangan.

Itu langka yang cukup berat, karena di tahun 2017 lalu, masih ada 673 juta orang di seluruh dunia yang berak sembarangan.

Sehingga berak, eeh, atau BAB sembarangan jadi fokus program sanitasi PBB, khususnya lagi UNICEF, karena tinja yang tidak dilokalisir akan mencemari air minum.

UNICEF menyebut, diare dan air minum tidak aman masih menjadi penyebab utama malnutrisi, sakit, dan kematian pada anak. Di Asia Selatan tiap tahunnya ada 177 ribu anak yang meninggal karena diare.

Hasil riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 lalu, menyebutkan bahwa ada kecenderungan perilaku masyarakat untuk menuju jamban kalau kebelet meningkat menjadi 88,2 persen.  Pada tahun, kecenderungan itu menurun hingga mencapai persentase 81 persen sja.

Provinsi D.I. Yogyakarta tahun 2019 mendapatkan penghargaan STBM berkelanjutan Eka Pratama karena seluruh kabupaten dan kotanya telah bebas perilaku BABS.

Sementara Papua menempati posisi paling bawahsoal perilaku BAB di jamban dengan persentase 55,8 persen, disusul oleh Kalimantan Tengah dan Sumatera Barat sebesar 60 persen.

Kemenkes dan PUPR terus ngotot untuk memerangi perilaku BABS mengingat ceceran tinja adalah rumah idaman serangga, terkhusus lalat, yang gemar hinggap di lingkungan manusia.

Lalat tersebut disebutkan dapat menyebabkan penyakit macam diare, kolera, demam, disentri, hepatitis, sampai malnutrisi.

Dari data WHO tahun 2009, ada 2 miliar kasus diare yang mengakibatkan 1,5 juta orang meninggal setiap tahun.

Sementara, di negara berkembang seperti Indonesia lebih parah lagi, rata-rata anak 3 kali diare setiap tahun dan menghambat tumbuh kembang (stunting).

Selain memerangi perilaku berak sembarangan, perlu juga dicanangkan perang terhadap perilaku pipis atau Buang Air Kecil (BAK) sembarangan.

Apa lagi, pipis sembarang tempat lebih sering dijumpai di kota besar orang berak sembarangan. Jangan sampai kebiasaan memalukan kayak gitu didiamkan aja.

Sarjan Lahay
Sarjan Lahay adalah seorang jurnalis lepas di Gorontalo, sebuah provinsi di pulau Sulawesi yang sering disebut sebagai Serambi Madina. Ia memulai karir jurnalistiknya pada tahun 2018, dengan menjadi reporter di beberapa media lokal. Sarjan sangat tertarik dengan isu lingkungan dan ingin berbagi cerita masyarakat Gorontalo yang terkena dampak pencemaran lingkungan untuk menjangkau khalayak yang lebih luas di luar provinsi. Pada awal tahun 2021 ia menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia hingga sekarang.